Hagia Sophia

05 March 2023

Ini yang Dilakukan Pemerintah Arab Saudi untuk Atasi Obesitas Warganya

1 dari 5 orang dewasa di Arab Saudi mengalami obesitas. Ini membuat pemerintah bergerak dan memimpin reformasi anti obesitas. (Diolah dari Thinkstockphotos.com)

Rakyat Arab Saudi terancam bahaya obesitas atau kegemukan. Hal ini akhirnya membuat pemerintah bergerak dan memimpin reformasi anti obesitas. Riset yang diterbitkan oleh Bank Dunia pada tahun lalu menyebut sekitar 1 dari 5 orang dewasa di Arab Saudi mengalami obesitas. Studi ini menggambarkan masalah tersebut cukup mengkhawatirkan.

Berdasarkan Observatorium Obesitas Global, Arab Saudi saat ini berada di posisi ke-17 peringkat prevalensi tertinggi obesitas, tiga urutan di bawah Amerika Serikat, Qatar, dan Kuwait.

Hal inilah yang membuat Putra Mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman mengeluarkan agenda reformasi Vision 2030 dengan tujuan untuk menurunkan angka obesitas dan diabetes pada akhir dekade ini.

Upaya tersebut terbantu oleh banyaknya restoran baru yang menawarkan alternatif makanan yang lebih sehat untuk beberapa makanan tradisional setempat.

Asim al-Shammari, seorang analis keuangan mengungkapkan bahwa dirinya baru-baru ini beralih ke restoran yang menyajikan makanan sehat.

"Saya biasa makan burger, shawarma, atau kabsa saat saya sedang bekerja," kata pria berusia 28 tahun itu, melansir Al-Jazeera.

"Hal ini meningkatkan obesitas, terutama dengan pekerjaan kantor delapan jam dan kurangnya pergerakan," lanjutnya.

Selama beberapa dekade, warga Saudi menghabiskan banyak waktu di restoran dan pusat perbelanjaan. Makanan adalah sumber hiburan utama di negara itu. Apalagi, suhu tinggi di sana membatasi aktivitas di luar ruangan sepanjang tahun.

Sejak 2019 silam, Kementerian Kesehatan Arab Saudi mulai mewajibkan restoran untuk menyertakan informasi kalori di dalam menu makanan untuk mendorong pola makan sehat.

Pilihan makanan cepat saji seperti McDonald dan Al-Baik tetap tersedia di kota-kota utama negara kerajaan tersebut. Namun, gerai-gerai cepat saji ini mulai menghadapi persaingan yang lebih bervariasi.

Pasalnya, semakin banyak restoran menawarkan paket makanan yang mengirimkan salad dan makanan sehat lainnya ke rumah dan tempat kerja klien. Salah satu paket tersebut menyediakan menu makanan sehari selama sebulan seharga 450 riyal atau sekitar Rp1,8 juta.

"Orang Saudi telah mengubah gaya hidup mereka dan sekarang menghadiri klub olahraga dan makan makanan sehat," kata Basil Chehayeb, seorang warga yang memiliki restoran makanan sehat di Riyadh.

Upaya restoran dan bisnis sektor swasta lainnya untuk mempromosikan pola makan sehat telah dilengkapi dengan intervensi pikiran sehat lainnya. Federasi Olahraga Arab Saudi kini menyelenggarakan acara reguler seperti Riyadh Marathon yang tahun ini menarik ribuan pelari ke jalanan di Riyadh.

Pemerintah juga tengah mengerjakan Sports Boulevard sepanjang 135 kilometer di ibu kota, menyediakan jalur berjalan kaki, bersepeda, hingga menunggang kuda. Tak hanya itu, dengan dimulainya tahun akademik saat ini, Kementerian Kesehatan Arab Saudi juga telah melarang penjualan minuman ringan di sekolah.

"Obesitas adalah masalah kesehatan yang serius, sangat terlihat sekarang kesadaran kesehatan meningkat di kalangan generasi muda," kata konsultan kesehatan masyarakat, Lamia al-Brahim.

"Perubahan perilaku masyarakat membutuhkan waktu yang lama, dan upaya tersebut dimulai dari dalam rumah, kemudian sekolah dan kemudian instansi pemerintah."























Artikel ini telah tayang di cnnindonesia.com dengan judul "Obesitas Mengancam Arab Saudi, Pemerintah Gaungkan Gaya Hidup Sehat"