Hagia Sophia

05 May 2023

China Alami Krisis Populasi Hingga Jumlahnya Disusul India

Biang kerok penyebab populasi China disalip India. (Foto: Getty Images/Sawayasu Tsuji)

Sekitar 50 tahun yang lalu, India dan China memiliki angka kelahiran yang sama. India di angka 5,6 anak per wanita, sedangkan China 5,5 per wanita. Angka tersebut jauh di atas replacement-level fertility sebanyak 2,1 untuk menjaga stabilitas populasi.

Namun dalam perjalanannya, China dan India memiliki kebijakan berbeda dalam urusan pengendalian populasi.

Strategi India yang Pelan Tapi Pasti

India telah merencanakan program keluarga berencananya sejak tahun 1952. Jalan yang dipilih India begitu berliku dan lambat, namun pasti.

India menyediakan layanan kesehatan reproduksi, pilihan kontrasepsi untuk pasangan, dan kebebasan untuk memutuskan berapa banyak anak yang mereka inginkan.

"Strategi tersebut tak langsung sukses. Laju pertumbuhan penduduk awalnya meningkat dari 21,6 persen pada tahun 1961 menjadi 24,8 persen pada tahun 1971," ucap Direktur Eksekutif Yayasan Kependudukan India Poonam Muttreja dikutip dari Aljazeera, Jumat (5/5/2023).

"Jumlah penduduk meningkat dari 439 juta menjadi 548 juta. Sebagian besar adalah hasil dari peningkatan harapan hidup yang naik dari 45 tahun menjadi 49 tahun pada dekade tersebut," sambungnya.

Perdana Menteri India Indira Gandhi sempat memberlakukan keadaan darurat nasional pada tahun 1975 karena angka-angka yang meningkat drastis. Bahkan pihak pemerintah sempat menggunakan paksaan untuk mensterilkan masyarakat, khususnya laki-laki.

Namun, pada tahun 1977 status kedaruratan tersebut dicabut dan kembali ke cara lamanya. Akhirnya tingkat pertumbuhan penduduk India mulai menurun sejak tahun 1981 dan tren terus berlanjut hingga saat ini.

"Pada tahun 1991 tingkat kesuburan India menurun menjadi 4, lalu menurun menjadi 3,3 pada tahun 2001 dan 2,5 pada tahun 2011. Akhirnya pada tahun 2020 India mencapai replacement-level fertility. Ini tonggak penting dalam transisi demografisnya," jelasnya.

Strategi Cepat China Namun Bergejolak

Pada tahun 1970-an, China langsung mengalami penurunan angka kelahiran yang sangat signifikan bahkan hingga di bawah replacement-level fertility yaitu sebanyak 1,3. Kejadian tersebut akhirnya memaksa China untuk membuat serangkai kebijakan agar angka kelahiran bisa naik.

Penurunan yang drastis tersebut dapat terjadi karena pemerintah menetapkan batasan usia untuk menikah yang di mana perempuan minimal 23 tahun, sedangkan laki-laki 25 tahun. Angka kelahiran negeri tirai bambu tersebut langsung anjlok dari yang sebelumnya 5,5 kelahiran per wanita pada tahun 1971 menjadi 2,7 kelahiran pada tahun 1979.

Merasa hasil tersebut tidak cukup, pemerintah China pada tahun 1979 bahkan memberlakukan aturan satu anak dan memberi denda pada pasangan yang melahirkan lebih dari satu anak. Tak hanya itu, sterilisasi paksa dan aborsi juga dilakukan saat itu.

"China sekarang telah menyadari bagaimana kebijakan itu telah menjadi bumerang, yang menyebabkan rasio jenis kelamin lebih banyak pria daripada wanita dan populasi yang menua dengan cepat," jelas Poonam.

"Pemerintah akhirnya mengubah kebijakannya pada tahun 2016 untuk mengizinkan keluarga memiliki dua anak dan menaikkan standar menjadi tiga pada tahun 2021," sambungnya.

Pada tahun 2022, untuk pertama kalinya populasi China menyusut dalam 60 tahun hingga mencapai 1 juta orang.





























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Biang Krisis Populasi China hingga Jumlahnya Kini Disalip India!"