Hagia Sophia

05 May 2023

Walau Negaranya Alami Penurunan Populasi, Kota di Jepang Ini Miliki Angka Kelahiran Tinggi

Situasi di Jepang (Foto: David Mareuil/Getty Images)

Jepang dihantam penurunan populasi imbas banyak warganya yang memilih untuk tak menikah dan memiliki anak. Kini tercatat, populasi Jepang menyusut 556.000 pada 2022 dari tahun sebelumnya menjadi 124,9 juta. Dengan angka tersebut, Jepang resmi mengalami penurunan populasi selama 12 tahun berturut-turut.

"Sekarang atau tidak sama sekali mengenai kebijakan mengenai kelahiran dan pengasuhan anak," kata Perdana Menteri Jepang Fumio, dikutip dari South China Morning Post.

"Ini adalah masalah yang tidak bisa menunggu lebih lama lagi," imbuhnya lagi.

Meskipun demikian, ada salah satu kota di Jepang yang dianggap ajaib dan menjadi contoh karena angka kelahiran bayi yang tinggi dibanding wilayah yang lain. Kota tersebut adalah Nagi di Prefektur Okayama.

Kota Nagi mencatat angka kelahiran 2,95 pada tahun 2019. Dengan populasi sekitar 5.700, kota ini mempertahankan angka kelahiran 2,68 pada tahun 2021, seperti dikutip dari Mainichi.

Imbas hal tersebut, kota ini telah menarik perhatian baik di Jepang maupun di luar negeri, mendapatkan lebih dari 50 kunjungan setahun dari pemerintah daerah termasuk dari AS, Korea Selatan, Belanda, dan Qatar. Perdana Menteri Fumio Kishida juga mengunjungi kota itu pada 19 Februari lalu.

Satu-satunya cara bagi Nagi untuk bertahan hidup adalah menghentikan populasi yang menyusut. Jumlah anggota majelis kota dikurangi dari 14 menjadi 10. Kota ini juga memotong subsidi dan hibah, serta meminta kerja sama dari penduduknya, dan ternyata mampu mengumpulkan sekitar 160 juta yen atau sekitar 17 miliar dalam sumber daya keuangan.

Nagi juga telah membuat langkah-langkah untuk mendukung membesarkan anak sebagai pilar rencana revitalisasinya, dan telah mempromosikannya secara bertahap. Kota ini menyediakan buku pelajaran gratis dan materi pembelajaran untuk siswa SD dan SMP, perawatan medis gratis untuk anak-anak hingga SMA, dan subsidi uang sekolah sebesar USD 1.800 atau setara dengan Rp 26, Juta per siswa per tahun untuk siswa sekolah menengah.

Tahun 2007, kota tersebut membuka fasilitas dukungan penitipan anak 'Rumah Anak Nagi'. Selain layanan penitipan anak, fasilitas ini menyediakan tempat di mana orang tua dengan anak dapat berbicara dengan cara yang sama seperti dengan tetangga. Staf terdiri dari warga termasuk ibu-ibu yang telah selesai mengasuh anak.

Reputasi Nagi sebagai kota yang mendukung pengasuhan anak telah menyebar dan jumlah anak muda yang pindah ke daerah tersebut meningkat. Pada Maret 2023, populasi kota mencapai 5.751, naik sedikit dari 5.725 pada April 2022.

Dengan fakta ini terdapat sedikit harapan untuk masa depan Jepang. Diharapkan Nagi bisa menjadi percontohan untuk wilayah lain.





























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kota di Jepang Ini Catat Angka Kelahiran Tinggi di Tengah 'Resesi Seks'"