Hagia Sophia

13 July 2023

Dampak Suhu Panas Ekstrem di Tubuh Manusia

Ilustrasi. Foto: Thinkstock

Bumi mencatatkan rekor terpanas pada 4 Juli lalu. Di hari itu, suhu bumi mencapai 17,01 derajat Celcius, melampaui rekor sebelumnya pada 24 Juli yakni 16,92 derajat Celcius.

Saat ini para ilmuwan telah mengeksplorasi batas suhu yang dapat ditoleransi dengan aman oleh manusia. Para peneliti dari University of Roehampton di London mengatakan mereka telah mempertajam kisaran suhu di mana tubuh mulai berfungsi kurang optimal.

Diberitakan Healthline, menurut Prof Lewis Halsey dan tim risetnya, upper critical temperature (UCT) kemungkinan berada di antara 40°C dan 50°C.

Memahami suhu yang bisa ditolerir tubuh menjadi penting karena terkait dengan laju metabolisme yang meningkat. Suhu ekstrem juga memiliki implikasi besar bagi pekerja, atlet, pelancong, dan praktisi medis.

Untuk penelitiannya, Halsey dan tim risetnya meminta 13 orang dewasa di bawah usia 60 tahun berbaring di sebuah ruangan dan memaparkan mereka pada suhu dan tingkat kelembapan yang berbeda selama satu jam. Para peneliti mengukur tingkat metabolisme istirahat atau resting metabolic rate, suhu inti, tekanan darah, detak jantung, dan laju pernapasan.

Hasilnya menunjukkan bahwa tingkat metabolisme istirahat orang meningkat ketika mereka menghadapi suhu setidaknya 40 derajat Celcius.

Sebagai dasar perbandingan, para peneliti menggunakan 28 derajat Celcius dengan kelembapan 50 persen, karena manusia dapat mempertahankan suhu inti tubuh mereka dengan nyaman dalam kondisi tersebut.

Pada 40 derajat Celcius dan kelembapan 25 persen, tingkat metabolisme peserta meningkat rata-rata 35 persen dibandingkan dengan baseline, tetapi suhu inti tubuh mereka tidak naik.

Namun, pada suhu 50 derajat Celcius dan kelembapan 50 persen, suhu inti manusia naik rata-rata 1 derajat Celcius. Tingkat metabolisme orang juga naik 56 persen, dan detak jantung mereka naik 64 persen.

Halsey, yang secara pribadi berpartisipasi dalam eksperimennya, mengatakan bahwa lingkungan pada suhu 50 derajat Celcius "cukup suram", karena keringat pun tidak dapat mendinginkan tubuh.

Halsey memperkirakan bahwa jika peserta tetap tinggal di ruangan dengan suhu 50 derajat Celcius dengan kelembapan 50 persen untuk waktu yang lama, mereka mungkin tidak akan selamat, meskipun para peneliti tidak yakin seberapa banyak paparan akan berakibat fatal.

"Mereka pada akhirnya akan mati, karena suhu inti mereka akan terus meningkat," kata Halsey. "Tubuh akan berjuang untuk membuang panas."

Orang dengan masalah jantung dan paru-paru yang sudah ada sebelumnya paling rentan terhadap panas ekstrem, bersama dengan orang dewasa yang lebih tua, orang hamil dan bayi baru lahir.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Bumi Makin Panas, Ilmuwan Ungkap Ngerinya Efek Suhu Ekstrem di Tubuh Manusia"