Hagia Sophia

04 August 2023

Diduga Karena Heatstroke, Gadis Belia Asal Jepang Ini Meninggal Dunia

Foto ilustrasi: Thinkstock

Seorang siswa perempuan sekolah menengah pertama di Jepang meninggal dunia saat dalam perjalanan pulang dari sekolah. Diduga, gadis berusia 13 tahun itu meninggal karena terkena heatstroke atau sengatan panas setelah latihan klub di sekolahnya.

Dewan Pendidikan Kota Yonezawa dalam konferensi pers pada 30 Juli 2023 menanggapi kabar tersebut. Diketahui, gadis itu merupakan seorang siswa di Sekolah Menengah Pertama Ketiga Kota Yonezawa.

Akibat kejadian tersebut, sekolah sempat menangguhkan kegiatan klub untuk menyelidiki kematian siswanya.

Diduga gadis tersebut sedang bersepeda untuk pulang ke rumahnya. Namun, dia ditemukan tidak sadarkan diri di trotoar Rute Nasional 121 pada 28 Juli 2023 pukul 11 pagi waktu setempat.

Dikutip dari laman The Mainichi, gadis itu sempat dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tidak bisa tertolong.

Konferensi pers dewan pendidikan dilakukan setelah melaporkan kejadian tersebut pada pertemuan khusus kepala sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di kota pada 30 Juli. Menurut Reiko Yamaguchi, direktur departemen bimbingan pendidikan dewan, remaja itu tiba di sekolah dengan sepeda pada 8.10 pagi waktu setempat.

Gadis 13 tahun itu bergabung dalam kegiatan klub yang dijadwalkan dari 8.30 pagi hingga pukul 11 pagi. Tetapi, pengawas klub menghentikan latihannya pada pukul 9.55 pagi karena khawatir akan kenaikan suhu dan faktor lainnya.

Selama latihan, para siswa dilaporkan beristirahat setiap 20-25 menit sekali untuk rehidrasi. Saat itu, semua siswa yang ikut dalam latihan, termasuk gadis 13 tahun itu, tidak ada yang mengeluh sakit atau semacamnya.

Setelah kementerian lingkungan dan pendidikan Jepang menginstruksikan sekolah pada Mei 2021 untuk membuat pedoman pencegahan sengatan panas di sekolah, dewan pendidikan Yonezawa mulai menjalankan pedoman tanggap sengatan panas untuk sekolah dasar dan menengah pertama di kota tersebut pada tahun ajaran 2022.

"Bila kegiatan sekolah diadakan di ruang kelas atau gimnasium tanpa AC atau di luar ruangan, perlu untuk memantau kondisi menggunakan pengukur indeks panas (untuk menentukan risiko sengatan panas)," tulis pedoman tersebut.

Pasca kejadian itu, penasihat klub memutuskan untuk mempersingkat waktu latihan tanpa menggunakan pengukur indeks panas. Sekolah hanya memiliki satu perangkat seperti itu, dan mungkin beberapa penasihat tidak dapat menggunakannya secara bersamaan.



























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Gadis 13 Tahun di Jepang Meninggal Dunia Diduga gegara Heatstroke"