Hagia Sophia

31 October 2023

Osteoporosis Kerap Dijuluki 'Silent Disease' Karena Tak Miliki Gejala

Ilustrasi tulang. (Foto: thinkstock)

Osteoporosis merupakan sebuah kondisi kesehatan di mana tulang menjadi rapuh keropos dan berisiko rentan untuk patah. Umumnya kondisi ini dialami oleh kelompok masyarakat lansia berusia di atas 50 tahun.

Selain itu, penyakit osteoporosis juga kerap dikaitkan dengan istilah 'silent disease'. Hal ini terjadi karena osteoporosis tidak memiliki gejala. Oleh karena itu, pemeriksaan dini sangat penting dilakukan untuk mendeteksi penyakit osteoporosis.

"Osteoporosis ini termasuk silent disease karena dia tidak ada gejala. Misalnya ada orang usia 50 tahun biasa aja jalannya. Ternyata tulangnya keropos, mulai muncul gejala kalau kepeleset dan patah," ujar dokter spesialis orthopaedi dan traumatologi dr Yoshi Pratama Djaja, SpOT(K) ketika ditemui detikcom, Senin (30/10/2023).

Pemeriksaan khusus seperti dengan bone densitometry perlu dilakukan untuk melihat risiko masalah penyakit osteoporosis. Pemeriksaan rontgen hanya dapat melihat masalah osteoporosis ketika sudah dalam derajat yang parah.

"Kalau di-rontgen terus osteoporosisnya kelihatan berarti sudah terlambat. Berarti itu kondisinya sudah 60 persen," ujar dr Yoshi.

"Pada wanita skrining bisa dilakukan ketika usia 65 tahun dan pada pria 70 tahun setahun sekali. Wanita usia 50 tahun yang sudah memiliki faktor risiko juga sebaiknya melakukan skrining," sambungnya.

Adapun faktor risiko penyebab utama osteoporosis antara usia, kepadatan mineral tulang yang rendah, gender, dan keturunan. Selain itu, faktor risiko lain juga meliputi gaya hidup tidak banyak gerak, berat badan rendah, kurang kalsium, kurangnya paparan sinar matahari, defisiensi estrogen, pengobatan, hingga konsumsi alkohol dan rokok.

"Zat alkohol dan rokok itu dapat menghambat penyerapan kalsium dan vitamin D. Selain itu mereka juga meningkatkan aktivitas sel terutama osteoklas jadi dia menyebabkan tulang itu 'kemakan' lebih cepat," jelas dr Yoshi.

Yoshi menuturkan bahwa konsumsi alkohol secara berlebihan juga dapat menyebabkan masalah pada ginjal. Apabila ginjal terganggu, maka kondisi tersebut dapat memengaruhi fungsi dalam mengubah vitamin D yang tidak aktif menjadi aktif. Vitamin D berperan besar dalam proses penyerapan kalsium pada tulang.

Osteoporosis Bisa Terjadi pada Anak Muda?

dr Yoshi menuturkan bahwa osteoporosis tidak hanya dapat terjadi pada orang tua, melainkan juga pada orang tua. Namun, umumnya kondisi ini terjadi akibat penyakit lain atau disebut juga dengan osteoporosis sekunder.

"Tetapi biasanya juga karena ada penyakit lain misalnya penyakit kanker. Jadi dari penyakit dan pengobatannya itu sendiri bisa mengurangi turnover pada tulang dan mengalami osteoporosis sekunder," ujarnya.

"Atau misalnya penyakit pada ginjal, pasien cuci darah misalnya pada usia 20-30 tahun itu bisa aja. Atau misalnya pasien ada riwayat mengonsumsi steroid, kena autoimun mau nggak mau minum steroid setiap hari dan itu ya biasanya tulangnya juga menjadi keropos," pungkasnya.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Osteoporosis Dijuluki 'Silent Disease', Tak Bergejala sampai Kondisi Fatal"