Hagia Sophia

08 October 2023

Singapura Dilanda Krisis Populasi, Ini Alasan Warganya Tidak Ingin Punya Anak

Ramai warga di Singapura yang kini ogah punya anak. (Foto: Pradita Utama)

Singapura tengah dibayangi fenomena 'resesi seks', turunnya gairah untuk berhubungan seksual, menikah, hingga punya anak. Berdasarkan data analis, angka kelahiran Singapura mencapai rekor terendah pada 2022, yakni sebesar 7,9 persen.

Menurut laporan tersebut, ada beberapa faktor yang menyebabkan penurunan angka kelahiran di Singapura. Pertama, tingginya biaya hidup di negara tersebut yang membuat banyak orang enggan menambah anggota keluarga.

Kedua, tren kesuburan pada perempuan di Singapura. Menurut data Departemen Statistik Singapura, wanita berusia antara 25 dan 29 tahun kini memiliki kemungkinan lebih kecil untuk melahirkan dibandingkan wanita berusia 35 hingga 39 tahun.

"Memiliki anak terikat pada banyak hal, keterjangkauan rumah, pasangan, dan kematangan pasar kerja yang membuat Anda merasa aman untuk melakukannya," ungkap Direktur Pelaksana Ranstad Asia-Pasifik, Jaya Dass, dikutip dari CNBC International, Sabtu (7/10/2023).

Dass menambahkan keinginan untuk memiliki anak juga semakin menurun karena tuntutan hidup yang mulai berubah.

"Daya tarik untuk memiliki anak berkurang secara signifikan karena kehidupan telah semakin matang dan berubah," imbuhnya.

Insentif dari Pemerintah Tak Jadi Solusi

Pemerintah Singapura mengeluarkan kebijakan untuk memberikan insentif serta bonus guna mendorong masyarakat memiliki anak.

Misalnya, pasangan memiliki bayi yang lahir per tanggal 14 Februari masing-masing akan menerima SG$ 11.000 (sekitar Rp 123 juta) untuk anak pertama dan kedua, serta SG$ 13.000 (sekitar Rp 146 juta) untuk anak ketiga dan seterusnya. Bonus tersebut meningkat sebesar 30 hingga 37 persen dibandingkan kebijakan sebelumnya.

Tak hanya itu, pemerintah juga menambah jatah cuti berbayar untuk para ayah dari yang semula dua minggu, menjadi empat minggu bagi ayah dari bayi yang lahir pada tahun 2024.

Meski begitu, analis dari Economist Intelligence Unit (EIU) Wen Wei Tan menilai kebijakan tersebut tidak akan mampu menyelesaikan masalah angka kelahiran di Singapura.

"Mengatasi tingkat kesuburan berarti mengharuskan kita untuk turut menghadapi sejumlah kelemahan pada sistem yang mendasarinya. Artinya, kita tidak hanya harus mengatasi tantangan demografis, tapi juga membantu membangun kohesi sosial, serta melihat bagaimana kita dapat menumbuhkan sikap yang lebih sehat terhadap pengambilan risiko," ungkapnya.

Selain itu, tingginya biaya hidup di Singapura memaksa pasangan untuk memiliki dua sumber pendapatan dan tidak memiliki anak. Hal ini juga dipengaruhi perubahan pola pikir yang membuat semakin banyak pasangan yang memilih mendahulukan karier ketimbang menikah dan memiliki anak.





























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Dilanda Krisis Populasi, Ini Alasan Ramai Warga Singapura Ogah Punya Bayi"