Hagia Sophia

15 November 2023

Jumlah Angka Kelahiran di Inggris Merosot Tajam Sejak COVID-19

Ilustrasi Inggris mencatat penurunan angka kelahiran, mencapai level terendah pada 2022. Foto: Dok

Jumlah kelahiran bayi di Inggris turun ke level terendah pada 2022, setelah dua dekade terakhir. Tahun lalu, tercatat 'hanya' ada 600 ribu kelahiran hidup, tercatat 3,1 persen lebih rendah dibandingkan data pada 2021.

Jumlah kelahiran tersebut terpantau terjun bebas selama satu dekade, terlepas dari kondisi awal pandemi COVID-19 yang membuat banyak pasangan menunda rencana berkeluarga. Para ahli percaya, penurunan angka kelahiran ini sebagian besar disebabkan oleh banyaknya wanita yang memilih untuk berfokus pada karier dan pendidikan, ditambah pasangan yang lebih memilih untuk memiliki anak saat usia lebih lanjut.

Ekonomi yang rapuh di Inggris dibarengi krisis biaya hidup juga mendorong banyak orang untuk menunda memiliki anak. Beberapa orang percaya, kondisi tersebut tercermin dari tingkat aborsi yang melonjak.

Kemudian dilihat dari segi lingkungan, banyak orang khawatir perubahan iklim bakal membuat anak-anak di masa depan kelak akan memiliki kehidupan yang suram. Hal ini juga yang mendorong banyak orang di Inggris mengurungkan niat untuk membesarkan anak.

Sebuah data tahun lalu mengungkapkan, hampir setengah orang dewasa di Inggris mengaku tidak berencana memiliki anak, sebagian besar karena alasan keuangan. Para ahli khawatir, penurunan tingkat kelahiran nantinya akan membuat Inggris mengalami populasi yang menua. Imbasnya, akan ada beban besar untuk National Health Service (NHS) dan perawatan sosial.

"Jumlah kelahiran tahunan di Inggris dan Wales terus menurun baru-baru ini, dengan tahun 2022 mencatat jumlah kelahiran hidup terendah yang terlihat selama dua dekade," beber kepala analisis kesehatan ONS, James Tucker, dikutip dari Daily Mail, Jumat (18/8/2023).

Seiring jumlah ibu yang melahirkan pada usia tua melonjak dalam beberapa dekade terakhir, para dokter cenderung menganjurkan wanita untuk tidak hamil di usia terlalu tua. Pasalnya di samping kesuburan yang menurun, risiko komplikasi dan lahir mati juga meningkat pada kehamilan wanita di usia lebih tua.

Wanita di usia akhir 40-an diperkirakan memiliki peluang satu dari 20 untuk hamil secara alami. Pasalnya, mereka memiliki sel telur yang lebih sedikit, yang kurang mampu dibuahi.

Imbas kondisi tersebut, permintaan sel telur donor melonjak dalam beberapa tahun terakhir. Begitu juga pilihan lainnya yakni In Vitro Fertilization atau metode bayi tabung.




























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Warga Inggris Ramai-ramai Ogah Punya Anak, Bikin Jumlah Bayi Lahir Anjlok"