Hagia Sophia

15 November 2023

Setiap 27 Juta Tahun Sekali Bumi Berdenyut

Foto: IFL Science

Dalam 260 juta tahun terakhir, Bumi telah melalui berbagai masa: dinosaurus datang lalu pergi, Pangaea terpecah menjadi benua dan pulau yang kita lihat sekarang, dan manusia dengan cepat mengubah dunia tempat kita tinggal. Namun Bumi tampaknya selalu menjaga waktu saat melalui semua itu.

Berdasarkan penelitian terhadap peristiwa geologi kuno, diketahui bahwa planet kita memiliki 'detak jantung' aktivitas geologi yang lambat dan stabil setiap 27 juta tahun sekali atau lebih.

Rangkaian peristiwa geologis ini, termasuk aktivitas gunung berapi, kepunahan massal, reorganisasi lempeng, dan kenaikan permukaan air laut, berlangsung sangat lambat, merupakan siklus pasang surut yang dahsyat selama 27,5 juta tahun.

Dikutip dari Science Alert, para peneliti berpikir kita punya waktu 20 juta tahun lagi sebelum 'denyut nadi' berikutnya berdetak.

"Banyak ahli geologi percaya bahwa peristiwa geologi terjadi secara acak dari waktu ke waktu," kata Michael Rampino, ahli geologi dari New York University New York dan penulis utama studi tersebut dalam pernyataannya di tahun 2021.

"Tetapi penelitian kami memberikan bukti statistik untuk siklus umum, menunjukkan bahwa peristiwa geologi ini berkorelasi dan tidak acak," sambungnya.

Tim peneliti melakukan analisis terhadap usia 89 peristiwa geologi yang dipahami dengan baik selama 260 juta tahun terakhir.

Seperti yang dapat kalian lihat dari grafik di bawah, beberapa masa tersebut merupakan masa-masa sulit Bumi. Ada lebih dari delapan peristiwa yang mengubah dunia berkumpul dalam jangka waktu yang secara geologis kecil, sehingga membentuk 'denyut' bencana.

Foto: Science Alert

"Peristiwa-peristiwa ini mencakup masa-masa kepunahan laut dan non-laut, peristiwa-peristiwa anoxic samudera yang besar, letusan-letusan banjir-basal di benua, fluktuasi permukaan laut, gelombang magmatisme intralempeng global, dan masa-masa perubahan laju penyebaran dasar laut dan reorganisasi lempeng," tulis peneliti dalam makalah mereka.

"Hasil kami menunjukkan bahwa peristiwa geologi global umumnya berkorelasi, dan tampaknya terjadi secara bersamaan dengan siklus yang mendasarinya kurang lebih 27,5 juta tahun," sebut mereka lagi.

Sudah diduga sejak lama

Ahli geologi telah menyelidiki potensi siklus peristiwa geologi sejak lama. Pada tahun 1920-an dan 30-an, para ilmuwan pada masa itu berpendapat bahwa catatan geologi mempunyai siklus 30 juta tahun, sedangkan pada tahun 1980-an dan 90-an para peneliti menggunakan peristiwa-peristiwa geologi dengan tanggal terbaik pada saat itu untuk memberi mereka rentang waktu panjang antara 'denyut' 26,2 hingga 30,6 juta tahun.

Sekarang, tampaknya 27,5 juta tahun adalah waktu yang tepat sesuai perkiraan kita. Sebuah penelitian yang diterbitkan pada akhir tahun 2020 oleh penulis yang sama, menunjukkan bahwa periode 27,5 juta tahun ini juga merupakan saat terjadinya kepunahan massal.

"Makalah ini cukup bagus, tapi sebenarnya menurut saya makalah yang lebih baik tentang fenomena ini adalah makalah tahun 2018 yang ditulis oleh Muller dan Dutkiewicz," kata ahli geologi tektonik Alan Collins dari Adelaide University yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

Makalah tahun 2018 tersebut, yang ditulis oleh dua peneliti di Sydney Universitas, mengamati siklus karbon Bumi dan lempeng tektonik. Mereka juga sampai pada kesimpulan bahwa siklus tersebut berlangsung sekitar 26 juta tahun.

Collins menjelaskan bahwa dalam penelitian terbaru ini, banyak peristiwa yang diteliti oleh tim bersifat sebab akibat. Artinya, satu peristiwa secara langsung menyebabkan peristiwa lainnya, sehingga beberapa dari 89 peristiwa tersebut saling terkait. Misalnya, peristiwa anoksik yang menyebabkan kepunahan laut.

"Meski begitu, siklus 26-30 juta tahun ini tampaknya nyata dan dalam jangka waktu yang lebih lama, juga tidak jelas apa penyebab mendasarnya," tambahnya.

Penelitian lain dari Rampino dan timnya menunjukkan bahwa serangan komet mungkin menjadi penyebabnya, bahkan seorang peneliti luar angkasa berpendapat bahwa Planet Sembilan adalah penyebabnya.

Namun jika Bumi benar-benar memiliki 'detak jantung' geologis, hal itu mungkin disebabkan oleh sesuatu yang lebih dekat dengan Bumi.

"Gelombang siklus tektonik dan perubahan iklim ini mungkin merupakan hasil dari proses geofisika yang berkaitan dengan dinamika lempeng tektonik dan bulu mantel, atau mungkin juga disebabkan oleh siklus astronomi yang terkait dengan pergerakan Bumi di Tata Surya dan Galaksi," tulis tim peneliti.




























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Bumi Berdenyut Misterius Setiap 27 Juta Tahun Sekali"