Hagia Sophia

25 December 2023

Alasan Warga Korsel Tidak Ingin Punya Anak, Kawatir Tidak Bisa Jadi Ortu yang Baik

Ilustrasi. Foto: Simon Shin/SOPA Images/LightRocket via Getty Images

Saking banyaknya warga ogah menikah dan memiliki anak, Korea Selatan diterpa penurunan angka kelahiran. Laporan dari Statistics Korea menyebut, Korea Selatan bisa mengalami penurunan populasi sebesar lebih dari 40 persen dalam waktu 50 tahun, dengan separuh penduduknya berusia 65 tahun ke atas.

Skenario terburuk mereka memprediksi, antara tahun 2022 hingga 2071, populasi di Korea Selatan akan anjlok menjadi 30,1 juta. Kondisi ini bakal bisa dicegah hanya dengan peningkatan tingkat kesuburan, yang harus tercapai dalam jangka waktu dekat.

Dikutip dari The Korea Herald, berdasarkan skenario sentralnya, total populasi, yang saat ini berjumlah sekitar 51,7 juta jiwa, akan turun menjadi 51,3 juta jiwa pada 2030. Kemudian pada 2072, populasi di Korea Selatan hanya akan tersisa sebanyak 36,2 juta jiwa.

Mereka juga memprediksi, jumlah bayi yang dilahirkan perempuan di Korea Selatan akan terus menurun hingga 2025. Saat itu, tingkat kesuburan diperkirakan akan mencapai 0,65. Mengingat sebelumnya pada 2022, Korea Selatan mencatat angka kesuburan terendah di dunia dengan angka 0,78.

Tingkat kesuburan minimum yang dibutuhkan suatu negara untuk mempertahankan jumlah penduduknya adalah 2,1 anak. Artinya, setiap perempuan harus memiliki minimal dua anak untuk menghindari penurunan populasi. Namun, proyeksi tingkat kesuburan antara tahun 2023 dan 2072 di Korea Selatan tidak menunjukkan angka yang mendekati angka 2 poin.

Alasan Warga Korsel Ogah Punya Anak

Dalam kesempatan terpisah, Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Korea Selatan mengundang enam pasangan muda yang berencana untuk tidak memiliki anak, dalam pertemuan di Seocho-gu, Seoul Selatan.

Di sana, para pasangan yang hadir mengungkapkan alasan mereka memilih untuk tidak memiliki anak. Salah satu alasan yang paling banyak disinggung, yakni ketatnya persaingan di ranah pendidikan dibarengi masalah keuangan.

"(Orang tua) terus-menerus membandingkan anak-anak dari pesta ulang tahun pertama mereka, bahkan anak mana yang mulai berjalan. Saya rasa saya tidak bisa mengikuti kompetisi yang tiada habisnya ini," kata salah satu peserta dikutip dari The Straits Times, Selasa (19/12).

Dalam pertemuan tersebut, ada juga peserta yang mengakui bahwa mereka kekurangan waktu dan uang untuk merawat anak. Maka itu mereka khawatir, dirinya tidak akan bisa menjadi orang tua yang baik.

"Kami masing-masing mempunyai pekerjaan masing-masing, dan kami hampir tidak punya waktu untuk tidur di rumah dan kebanyakan makan di luar. Saya rasa saya tidak akan bisa merawat anak itu dengan baik, dan saya khawatir dia akan membenci saya," ungkap salah satu peserta.



























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Curhat Warga Korsel soal Ogah Punya Anak: Takut Tak Bisa Jadi Ortu yang Baik"