Hagia Sophia

29 December 2023

Kasus Leptospirosis di Filipina Meledak, Apa Pemicunya?

Ilustrasi pasien. (Foto: Getty Images/iStockphoto/KatarzynaBialasiewicz)

Kasus leptospirosis di Filipina 'meledak', menjadi yang tertinggi dalam lima tahun terakhir. Ada lebih dari 6 ribu pasien yang terinfeksi leptospirosis, 639 di antaranya meninggal dunia.

Dari tahun 2018 hingga 2023, penyakit ini mencatat tingkat kematian rata-rata di atas 10 persen, dengan lebih dari 420 kematian per tahun.

Apa Pemicunya?

Departemen Kesehatan setempat menilai air banjir meningkatkan risiko penularan, lantaran kemungkinan terkontaminasi saat bersentuhan dengan luka terbuka, terutama saat mereka tidak memakai alat pelindung diri.

Leptospirosis menjadi endemik di Filipina beriklim tropis. Sekitar 24 juta orang setempat juga memiliki keterbatasan akses atau bahkan tidak memiliki toilet.

Para ilmuwan memetakan faktor risiko yang berkontribusi terhadap peredaran penyakit tersebut, kemungkinan tertular leptospirosis jauh lebih tinggi di daerah padat dan tertinggal.

Penyakit zoonosis ini ditularkan ke manusia melalui urine hewan yang terinfeksi bakteri leptospira. Mereka juga bertahan dalam air dan tanah, membuat penduduk yang tinggal di daerah rawan banjir menjadi sangat rentan.

Hewan pengerat adalah salah satu pembawa penyakit leptospirosis yang paling umum, seperti misalnya tikus. Kelompok masyarakat kurang mampu lebih rentan karena mereka cenderung hidup dalam kondisi tidak sehat, saat hama tersebut bebas berkembang biak.

Hewan lain seperti anjing dan hewan ternak termasuk carabao, sapi, dan kambing juga dapat menyebarkan penyakit ini.

"Mayoritas pengidap leptospirosis berasal dari masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah. Kebanyakan dari mereka tidak menerima dukungan yang cukup untuk dirawat, terutama di rumah sakit," kata ahli mikrobiologi terkenal di Filipina, Dr Sharon Villanueva, dikutip dari Channel News Asia, Kamis (28/12/2023).

"(Kami) ingin meringankan mereka dari permasalahan tersebut."

Karenanya, Villanueva bersama para ilmuwan di universitas negeri ternama Filipina melakukan penelitian dan pengembangan vaksin leptospirosis, yang juga melibatkan co-investor untuk mendanai uji klinis lebih lanjut.

Pakar imunologi mikroba Dr Nina Gloriani mengembangkan vaksin yang menargetkan strain tertentu.

Melalui penelitian bertahun-tahun, mereka mengidentifikasi jenis bakteri Leptospira yang ada di Filipina dan hewan pembawanya.

Dr Gloriani mengatakan tes menunjukkan bahwa vaksin impor tidak dapat menetralisir jenis bakteri Leptospira yang ditemukan di Filipina.

"Leptospirosis bersifat geografis. Apa yang Anda miliki di Amerika mungkin berbeda dengan apa yang kita miliki di sini, dan hal ini terutama berdampak pada pengembangan vaksin," katanya kepada CNA.

Leptospirosis dapat menyebabkan berbagai gejala seperti demam, sakit kepala, menggigil, dan nyeri otot, yang serupa dengan gejala pilek dan flu biasa, sehingga sulit dideteksi.

Namun, jika tidak ditangani, penyakit ini berpotensi mengancam jiwa dan dapat menyebabkan kerusakan ginjal, gagal hati, dan bahkan kematian.

Di antara mereka yang mengidap penyakit ini adalah siswa kelas 12 Cyrus Lescano, yang didiagnosis leptospirosis parah dua bulan lalu. Dia kemudian menghadapi komplikasi pada paru-paru dan ginjalnya.



























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kasus Leptospirosis di Filipina 'Meledak', Cetak Rekor Tertinggi dalam 5 Tahun Terakhir"