Hagia Sophia

29 December 2023

Vape Lebih Aman dari Rokok Konvensional? Ini Kata Dokter Paru

Ilustrasi rokok elektrik. Foto: Dok. Shutterstock

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melarang penggunaan vape dan rokok elektrik dengan varian rasa, serta mendesak semua negara untuk memperlakukan vape dengan aturan layaknya pada rokok tembakau dan konvensional. Ditegaskannya, layaknya rokok tembakau, vape juga memicu gangguan kesehatan dan mendorong kecanduan nikotin di kalangan non-perokok, terutama anak-anak dan remaja.

"Anak-anak direkrut dan dijebak pada usia dini untuk menggunakan rokok elektrik dan mungkin kecanduan nikotin," kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus dikutip dari Reuters, Kamis (28/12/2023).

WHO juga menyinggung, di seluruh wilayah dengan pemasaran yang agresif, vape lebih banyak digunakan oleh anak berusia 13-15 tahun dibandingkan oleh orang dewasa. Juga di samping itu, mengacu pada penelitian yang sudah ada, hingga kini tidak ada bukti bahwa vape bisa menjadi alternatif untuk perokok berhenti mengkonsumsi rokok konvensional.

Tak bisa menutup mata, banyak orang beranggapan vape dan rokok elektrik bisa dijadikan alternatif rokok konvensional. Mereka percaya, efek dari vape lebih 'enteng' lantaran tidak ada proses pembakaran layaknya pada rokok tembakau. Padahal menurut dokter paru, vape dan rokok elektrik pun bisa memicu beragam masalah kesehatan.

Aerosol rokok elektrik mengandung zat berbahaya seperti nikotin, logam berat seperti timbal, senyawa organik yang mudah menguap, dan agen penyebab kanker. Karena itu dokter spesialis paru dr Erlina Burhan, SpP(K) menegaskan, vape dan rokok elektrik tidak bisa digunakan sebagai pengganti rokok konvensional.

Memang betul, kadar nikotin pada rokok elektrik lebih rendah dibandingkan pada rokok konvensional. Namun nyatanya pada penggunaannya, rokok elektrik akan dihisap dalam jumlah yang banyak oleh penggunanya. Walhasil, kadar nikotin yang terhirup sama-sama tinggi layaknya penggunaan rokok konvensional.

"Salah satu penelitian menyebut lebih dari sama dengan 30 hisapan itu nikotin yang dihantarkan itu sama dengan jumlahnya dengan satu batang rokok," terang dr Erlina dalam diskusi daring beberapa waktu lalu.

"Memang kadarnya (nikotin) rendah tapi pada kenyataannya ternyata orang terjebak dengan kata-kata kadar nikotin dan zat-zat kimia menjadi lebih rendah. Jadi memang sama-sama menimbulkan kecanduan juga," imbuhnya.

Dikutip dari laman Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), aerosol yang dihasilkan rokok elektrik umumnya mengandung lebih sedikit bahan kimia beracun daripada campuran mematikan dari 7.000 bahan kimia dalam asap rokok konvensional. Akan tetapi, aerosol tersebut mengandung zat berbahaya dan berpotensi berbahaya, termasuk nikotin, logam berat seperti timbal, senyawa organik yang mudah menguap, dan agen penyebab kanker.

Juga dikutip dari Cleveland Clinic, penggunaan vape dan rokok elektrik juga bisa menimbulkan efek jangka pendek berupa:
  • Batuk
  • Sesak napas
  • Iritasi mata
  • Sakit kepala
  • Mulut dan tenggorokan kering dan teriritasi
  • Mual

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Benarkah Vape Lebih 'Aman' dari Rokok Konvensional? Begini Kata Dokter Paru"