Hagia Sophia

24 March 2023

Populasi di Beijing Mulai Nyusut, Jumlah Kematian Lebih Tinggi dari Kelahiran

Populasi di Beijing Anjlok, Jumlah Kematian Sudah Balap Angka Kelahiran (Foto: AP/Ng Han Guan)

Populasi masyarakat Ibu Kota China, Beijing, kembali mengalami penurunan untuk kedua kalinya dalam dua dekade. Menurut data resmi, hal ini sejalan dengan penurunan jumlah penduduk di negara China yang memicu kekhawatiran akan kondisi ekonomi negara.

Menurut statistik yang dirilis oleh pemerintah, populasi Beijing telah turun 43 ribu orang menjadi 21,84 juta pada akhir 2022.

Tingkat kematian yang ada di Beijing sudah melampaui angka kelahiran. Angka kematian di Beijing yang dikenal sebagai salah satu kota terpadat, meningkat menjadi 5,72 kematian per 1.000 orang. Sedangkan angka kelahiran menurun jadi 5,67 kelahiran per 1.000 orang.

"Pertumbuhan populasi alami adalah -0,05 per 1.000 orang," dalam rilis Perintah Rakyat Kota Beijing, dikutip dari VOA News, Kamis (23/3/2023).

Ini adalah yang pertama kalinya semenjak populasi turun pada tahun 2003. Tingkat kelahiran di Beijing dan di kota-kota China lainnya ditabulasikan berdasarkan jumlah penduduk tetap dan tidak termasuk pendatang.

Profesor bisnis internasional di Old Dominion University di Virginia Li Shaomin mengatakan bahwa penurunan populasi China akan menjadi sebuah tantangan besar. Pemerintah China harus segera membuat perubahan kebijakan untuk mengurangi dampak penurunan dan penuaan populasi.

"Jadi tantangan sebenarnya adalah bagaimana Partai Komunis China memprioritaskan dan mengalokasikan sumber daya untuk menghadapinya," ucap Shaomin.

Penurunan populasi di Beijing ini sejalan dengan tren nasional. Biro Statistik Nasional mengumumkan bahwa China memasuki era pertumbuhan populasi negatif. Hal itu bila melihat penurunan jumlah populasi untuk pertama kalinya dalam enam dekade, sejak Kelaparan Besar China di tahun 1958 sampai 1961.

Populasi diketahui turun sebanyak 850 ribu orang menjadi 1,412 miliar pada 2022.

Tingkat pertumbuhan populasi di China cenderung menurun karena Kebijakan Satu Anak yang sudah dilaksanakan selama 35 tahun. Sejak tahun 1990-an, tingkat kesuburan di China telah turun di bawah tingkat penggantian 2,1. Tingkat penggantian sendiri adalah tingkat yang memungkinkan populasi untuk mengganti dirinya sendiri.

Angkanya adalah 1,30 pada tahun 2020 dan turun menjadi 1,15 pada tahun 2021. Para ahli demografi selama satu dekade lebih berkampanye untuk membatalkan kebijakan satu anak sampai akhirnya pemerintah mengakhirinya tahun 2015.

Dalam studi yang dilakukan, besarnya biaya untuk membesarkan anak dan kurangnya ketentuan kesejahteraan menjadi salah satu alasan rendahnya tingkat kesuburan masyarakat China. Pemerintah sempat memberi keringanan pajak, subsidi perawatan anak, hingga cuti melahirkan lebih lama namun langkah tersebut tidak berhasil.

Selain itu, dampak tindakan ketat karena COVID selama 3 tahun juga membuat sebagian besar anak muda perkotaan China enggan untuk memiliki anak.
























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Populasi di Beijing Anjlok, Jumlah Kematian Sudah Balap Angka Kelahiran"