Hagia Sophia

14 October 2023

RS di Gaza Mulai Kehabisan Obat dan Listrik Padam

Foto: Reuters/Saleh Salem

Serangan udara yang dilakukan oleh Israel menyebabkan klinik dan rumah sakit yang tersisa beroperasi tanpa listrik dan pasokan obat-obatan. Wakil Direktur RS Al-Shifa di Gaza, Marwan Abu Seeds mengatakan bahwa rumah sakitnya didatangi oleh banyak korban luka tanpa henti.

"Rumah sakit kami kebanjiran pasien dan orang yang terluka. Kami terus menangani korban yang datang setiap hari di unit gawat darurat kami," ucap Marwan dikutip dari NBC News, Kamis (12/10/2023).

Para dokter dan pekerja yang memberikan bantuan kemanusiaan mengatakan bahwa sistem layanan kesehatan di Gaza akan runtuh. Tak sedikit tenaga medis yang mengatakan bahwa situasi di Gaza sangat kacau.

Dr Ghassan Abu-Sittah menceritakan horornya kondisi RS Al-Shifa di Gaza. Ia merupakan salah satu dokter yang memiliki spesialisasi mengobati korban-korban perang selama 15 tahun terakhir.

"Kondisinya terlihat seperti kamp pengungsian. Kamp tersebut dipenuhi keluarga yang berlindung. Di dalamnya sudah penuh diisi dengan 'tsunami' korban luka-luka," ujar Ghassan.

"Mereka sudah mulai kehabisan suplai, terutama kain kasa, antiseptik, jahitan, pisau, dan salep antibiotik, barang-barang yang diperlukan untuk luka bakar," sambungnya.

Sebagian besar pasien yang ada di rumah sakit tersebut berada dalam kondisi kritis. Banyak korban terluka akibat reruntuhan bangunan hingga terkena pecahan peluru.

Ghassan menceritakan bahwa rumah sakit sudah dipenuhi pasien, korban luka membludak. Pasien dengan luka yang lebih ringan terpaksa harus menunggu giliran untuk mendapat perawatan. Ia menambahkan bahwa menunda perawatan seperti dapat berisiko infeksi dan meningkatkan kemungkinan cacat permanen yang lebih tinggi.

Sang dokter menuturkan pasien anak-anak yang paling melekat dalam pikirannya. Setengah dari warga Palestina yang tinggal di Gaza berusia kurang dari 19 tahun.

Ghassan mengatakan Gaza memiliki persentase cedera anak akibat perang tertinggi di dunia.

"Ini adalah tempat terburuk untuk menjadi seorang anak," pungkasnya.

Rumah sakit di Jalur Gaza sebagian besar beroperasi dengan generator diesel dan listrik, yang hanya tersedia selama tiga sampai empat jam sehari. Rumah Sakit di seluruh Jalur Gaza kini terancam kehabisan bahan bakar menyusul penolakan Israel untuk mengizinkan pasokan bahan bakar.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menuturkan pada Selasa bahwa bahan bakar tersebut diperkirakan akan habis dalam hitungan hari.

"Mereka telah kehabisan pasokan yang telah disiapkan sebelum eskalasi terjadi. Respons kesehatan yang menyelamatkan nyawa kini bergantung pada penyediaan pasokan dan bahan bakar ke fasilitas kesehatan secepat mungkin," kata pihak WHO dalam keterangan resminya.

Adapun sebelumnya pihak WHO sudah bertemu Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi membahas pengiriman pasokan kesehatan dan kemanusiaan melalui perbatasan ke Gaza. Langkah tersebut akan segera dilakukan apabila Israel mengizinkan perjalanan yang aman.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kesaksian Nakes di Gaza saat RS Mulai Kehabisan Obat-Tak Ada Listrik"