Hagia Sophia

09 January 2024

Alasan Warga Korsel Tidak Ingin Punya Anak: Takut Gagal Jadi Orangtua

Ilustrasi Korea Selatan diterpa penurunan angka kelahiran saking banyak warganya ogah menikah dan punya anak. Foto: Getty Images/Woohae Cho

Saking banyaknya warga Korea Selatan memilih untuk tidak melahirkan anak, negara tersebut kini diterpa penurunan angka kelahiran. Banyak warga mengaku, keputusan mereka tersebut disebabkan oleh mahalnya biaya kehidupan, termasuk untuk merawat dan membesarkan anak.

Sejalan dengan itu, sebuah laporan yang dikeluarkan oleh lembaga penelitian lembaga pada Rabu (3/1/2024) menemukan, faktor terbesar yang membuat warga Korea Selatan ogah punya anak adalah mahalnya biaya perumahan. Hal itu mereka temukan berkenaan dengan analisis perihal faktor ekonomi dan tenaga kerja.

Dikutip dari The Korea Herald, para peneliti di Korea Research Institute for Human Settlements menganalisis pola angka kelahiran di negara tersebut, menggunakan data dari Statistics Korea. Mereka menyimpulkan, penurunan tersebut sangat besar selama lonjakan biaya perumahan. Sementara ketika harga rumah stabil, angka kelahiran cenderung tidak berubah banyak.

"(Pemerintah) harus mengambil kebijakan sehingga pengantin baru yang mengalami kesulitan finansial dapat memperoleh rumah tanpa mengambil pinjaman dalam jumlah berlebihan," tulis para peneliti, seraya menegaskan bahwa kunci untuk mengatasi angka kelahiran yang anjlok salah satunya yakni mengatasi biaya perumahan.

Dari Sisi Warga

Dalam kesempatan terpisah, Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Korea Selatan mengundang enam pasangan muda yang berencana untuk tidak memiliki anak. Keenam pasangan ini diajak melakukan perbincangan dalam pertemuan di Seocho-gu, Seoul Selatan, untuk mengungkapkan alasan mereka memilih untuk tidak memiliki anak.

Salah satu alasan yang paling banyak disinggung, yakni ketatnya persaingan di ranah pendidikan dibarengi masalah keuangan.

"(Orang tua) terus-menerus membandingkan anak-anak dari pesta ulang tahun pertama mereka, bahkan anak mana yang mulai berjalan. Saya rasa saya tidak bisa mengikuti kompetisi yang tiada habisnya ini," kata salah satu peserta dikutip dari The Straits Times.

Selain itu, ada juga peserta yang mengaku tidak punya cukup waktu dan uang untuk membesarkan anak. Dengan kondisi tersebut mereka khawatir tidak akan bisa menjadi orang tua yang baik.

"Kami masing-masing mempunyai pekerjaan masing-masing, dan kami hampir tidak punya waktu untuk tidur di rumah dan kebanyakan makan di luar. Saya rasa saya tidak akan bisa merawat anak itu dengan baik, dan saya khawatir dia akan membenci saya," ungkap salah satu peserta.

Dikutip dari The Korea Herald, mengacu pada skenario sentralnya, total populasi, yang saat ini berjumlah sekitar 51,7 juta jiwa, akan turun menjadi 51,3 juta jiwa pada 2030. Pada 2072, populasi di Korea Selatan hanya akan tersisa sebanyak 36,2 juta jiwa.

Mereka memprediksi, jumlah bayi yang dilahirkan perempuan di Korea Selatan akan terus menurun hingga 2025. Saat itu, tingkat kesuburan diperkirakan akan mencapai 0,65. Mengingat sebelumnya pada 2022, Korea Selatan mencatat angka kesuburan terendah di dunia dengan angka 0,78.



























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Alasan Warga Korsel Ogah Punya Anak: Rumah Mahal-Takut Gagal Jadi Ortu yang Baik"