Hagia Sophia

17 January 2024

Election Stress Disorder Sering Muncul Saat Masa Pemilu

Ilustrasi stres. (Foto: Shutterstock)

Election stress disorder bisa jadi dikeluhkan sejumlah orang pasca nyaris setiap hari terpapar informasi terkait pemilu 2024. Bagaimana tidak, informasinya terus berseliweran di timeline media sosial, termasuk soal persepsi debat calon presiden 2024 belakangan.

Menurut psikiater Mayo Clinic Dr Robert Bright, election stress disorder sebetulnya bukan diagnosis ilmiah, tetapi efeknya begitu nyata. Seseorang bisa mengalami kecemasan yang luar biasa, dengan beragam dampak yang ditimbulkan.

"Kita menyadarinya di tubuh kita, ketegangan di bahu kita. Terkadang orang mengalami gangguan gastrointestinal hingga sakit kepala. Orang-orang sulit tidur. Ada banyak gangguan tidur yang terjadi saat ini, gelisah, tidak bisa tidur, atau malah mengalami mimpi buruk tentang pemilu," kata dr Bright, dikutip dari Mayo Clinic.

Muncul Rasa Takut

Selain gelisah, orang dengan election stress disorder juga bisa mengalami rasa takut, emosi yang begitu kompleks, sehingga merasa sangat waspada dan terus-menerus mencari berita soal pasangan calon presiden yang diminati. Bahkan, ikut khawatir ketika tertinggal berita terbaru sehingga mungkin mengecek ponsel setiap jam untuk mencari update.

"Jika kamu memilih orang ini atau orang itu, kamu seperti tidak bisa menerima hal-hal buruk yang mungkin sedang dibicarakan terkaitnya," tutur dia.

Karenanya, ketika informasi negatif terkait hal tersebut terus-menerus terbaca, mempengaruhi emosi seseorang selama beberapa saat. Bisa jadi menjadi mudah tersinggung, tidak sadar membentak orang lain, tidak mempercayai orang lain, dan memandang orang sebagai orang lain atau sama.

Hal seperti ini disebutnya bahkan mempengaruhi hubungan seseorang dengan keluarga di rumah, atau rekan kerja di kantor.

Menurutnya, penyebab utama stres saat pemilu adalah perasaan tidak terkendali.

"Satu hal yang bisa kita lakukan dalam pemilu ini adalah kita bisa memilih," kata dr Bright.

"Kita bisa mengambil kendali pribadi, dan suara kita sama lantangnya dengan suara orang lain. Dan itulah indahnya hidup dalam demokrasi. Kita masing-masing punya kepentingan yang sama."

Apakah Kondisi Ini Wajar?

Ia mengatakan sebetulnya wajar saja jika seseorang mengkhawatirkan berbagai hal, tetapi saat stres mulai mengganggu atau berdampak negatif pada hidup dan keseharian seseorang, hal itu bisa menjadi kecemasan atau depresi.

"Jika hal tersebut menyebabkan gangguan, jika hal tersebut menyebabkan depresi dan kesedihan klinis, dan air mata, dan tentu saja perasaan putus asa atau tidak berdaya yang berkembang menjadi perasaan putus asa atau bahkan pikiran untuk bunuh diri, tentu saja, pada saat itu, inilah saatnya untuk mencari bantuan profesional," kata dr Bright.

"Dan mencari bantuan bisa berupa terapis profesional atau psikiater untuk menangani apa yang menjadi depresi klinis pada saat itu. Bisa saja dengan menghubungi teman dan jaringan sosial. Tetap terhubung itu sangat penting."



























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Sering Sakit Kepala Disertai Gejala Ini? Mungkin Kamu Kena Election Stress Disorder"