![]() |
| Foto: Getty Images |
Angka kelahiran di Singapura mengkhawatirkan. Pada 2025, negara tetangga RI ini mencetak rekor terendah baru dengan total fertility rate (TFR) hanya 0,87, jauh di bawah angka ideal yakni 2,1 anak per perempuan.
Wakil Perdana Menteri Singapura, Gan Kim Yong menyebut angka ini menandakan penurunan signifikan dibandingkan satu dekade lalu yang masih berada di 1,24.
"Jika tidak ada langkah baru, populasi warga negara kita akan mulai menyusut pada awal 2040-an," tegasnya dalam konferensi pers Kamis (26/2/2025), dikutip dari CNA.
Rekor Terendah dalam Sejarah
Penurunan ini memperpanjang tren suram yang sudah terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Untuk pertama kalinya, TFR Singapura jatuh di bawah 1,0 pada 2023, yakni 0,97, dan stagnan di angka yang sama pada 2024. Kini, pada 2025, angkanya kembali merosot ke 0,87.
Sepanjang 2025, hanya sekitar 27.500 kelahiran warga (resident births) yang tercatat, angka terendah dalam sejarah pencatatan negara tersebut.
Gan memaparkan, jika TFR bertahan di 0,87, setiap 100 penduduk saat ini hanya akan memiliki sekitar 44 anak dan 19 cucu. Dalam jangka panjang, tren ini disebutnya hampir mustahil dibalikkan karena jumlah perempuan usia subur akan semakin sedikit.
"Kita tidak boleh menyerah," ujarnya.
Tren Aging Population
Masalah ini bukan sekadar angka kelahiran. Singapura juga menghadapi tren aging population alias populasi yang mulai didominasi lansia. Pada 2025, satu dari lima warga negara Singapura sudah berusia 65 tahun ke atas. Sebagai perbandingan, di 2015 angkanya masih satu dari delapan orang.
Populasi yang menyusut dan menua akan memperlambat pertumbuhan ekonomi dan pendapatan, sementara belanja kesehatan serta jaminan sosial untuk lansia akan melonjak.
"Tekanan besar ini akan dirasakan di tingkat nasional maupun rumah tangga," katanya.
Ia juga menyinggung dampak pada kebutuhan pertahanan dan keamanan nasional. "Pertanyaannya, seperti apa Singapura 50 atau 100 tahun mendatang? Apakah kita tetap relevan? Apakah kita akan tetap ada?" ucapnya.
Angka Perkawinan Turun-Pilihan Childfree
Pemerintah menilai kebijakan fiskal semata tak cukup. Menteri di Kantor Perdana Menteri, Indranee Rajah, menyerukan perlunya 'reset' dalam cara masyarakat memandang pernikahan dan pengasuhan anak.
"Apa yang kita butuhkan adalah reset pernikahan dan pengasuhan," ujarnya.
Menurutnya, ada tiga hal yang perlu dibenahi, cara pernikahan dan pengasuhan dipersepsikan dan didukung, transformasi tempat kerja agar lebih ramah keluarga, serta peran kolektif masyarakat.
Pemerintah akan membentuk gugus tugas baru untuk mengkaji isu ini secara menyeluruh, termasuk mempertimbangkan usulan tambahan cuti pengasuhan anak dan dukungan biaya bagi orang tua.
Data juga menunjukkan tren yang mengkhawatirkan, angka pernikahan menurun, dan pasangan menikah cenderung memiliki lebih sedikit anak atau bahkan tidak memiliki anak.
Di tengah angka kelahiran yang anjlok, Singapura tetap mengandalkan imigrasi untuk menjaga pertumbuhan penduduk. Pada 2025, sekitar 25.000 orang diberikan kewarganegaraan, dan ke depan pemerintah memperkirakan menerima 25.000 hingga 30.000 warga baru per tahun dalam lima tahun mendatang.
Status permanent resident (PR) juga akan disesuaikan. Dalam beberapa tahun terakhir, populasi PR stabil di kisaran 540.000 orang. Pemerintah memperkirakan akan menerima sekitar 40.000 PR per tahun dalam lima tahun ke depan.
Meski begitu, Gan menegaskan imigrasi akan dikelola secara hati-hati agar warga negara tetap menjadi mayoritas penduduk dan keseimbangan etnis tetap terjaga.
"Kami tidak mengejar pertumbuhan demi pertumbuhan. Pertumbuhan ekonomi adalah sarana untuk meningkatkan kehidupan warga Singapura," katanya.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Angka Kelahiran Singapura Rekor Terendah, Makin Banyak yang Ogah Nikah-Punya Anak"
