![]() |
| Foto: Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin (Anggi/detikcom) |
Kasus campak menjadi sorotan usai temuan 2 kasus warga negara Australia yang dinyatakan positif. Keduanya diketahui memiliki riwayat perjalanan dari Indonesia.
Laporan tersebut diterima Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui mekanisme International Health Regulation (IHR). Terkait hal ini, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan kasus campak di dunia memang tengah mengalami kenaikan.
"Campak itu naik di seluruh dunia sekarang. Di Indonesia juga ada kenaikan," ucap Menkes saat ditemui di Jakarta Barat, (26/2/2026).
Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes, dr Andi Saguni menjelaskan sepanjang 2025, tercatat 116 Kejadian Luar Biasa (KLB) campak yang tersebar di 89 kabupaten/kota di 16 provinsi. Jumlah kasus suspek mencapai 63.760, dengan 11.094 di antaranya sudah terkonfirmasi laboratorium.
Dari seluruh kasus tersebut, terdapat 69 kematian. Angka kematian atau Case Fatality Rate (CFR) tercatat 0,1 persen. Menurut Andi, angka ini setara dengan CFR di negara-negara maju, termasuk di kawasan Eropa.
"CFR kita 0,1 persen, itu sama dengan negara-negara maju seperti Eropa dan lainnya," ujarnya.
Lima provinsi dengan KLB terbanyak sepanjang 2025:
- Jawa Timur
- Banten
- Sumatera Utara
- Sumatera Barat
- Aceh
Memasuki 2026, tren KLB campak belum sepenuhnya mereda. Hingga minggu ke-7, tercatat 21 KLB campak di 17 kabupaten/kota pada 11 provinsi. Dari jumlah itu, 13 KLB sudah terkonfirmasi laboratorium di 9 kabupaten/kota di 6 provinsi.
Lima provinsi dengan KLB terbanyak sepanjang 2026:
- Sumatera Barat
- Sumatera Selatan
- DIY
- Jawa Barat
- Jawa Tengah
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Menkes Wanti-wanti Kasus Campak Lagi Naik, Terbanyak di 5 Provinsi Ini"
