Hagia Sophia

02 March 2026

Populasi Merosot, Jumlah Bayi yang Lahir di Jepang Makin Sedikit

Foto: Getty Images/JUNG YEON-JE

Angka kelahiran di Jepang kembali mencetak rekor terendah. Data awal yang dirilis Kementerian Kesehatan Jepang pada Kamis (26/2/2026) menunjukkan jumlah bayi yang lahir sepanjang 2025 hanya 705.809, turun 15.179 atau 2,1 persen dibanding tahun sebelumnya.

Angka ini terendah sejak pencatatan dimulai pada 1899, menandai penurunan selama 10 tahun berturut-turut.

Meski pemerintah sudah mengupayakan berbagai cara untuk mendongkrak angka kelahiran, tren penyusutan masih terus berlanjut. Bahkan, jumlah kelahiran yang mendekati 700 ribu ini terjadi lebih dari 15 tahun lebih cepat dari proyeksi 2023 yang dibuat National Institute of Population and Social Security Research.

Dalam satu dekade terakhir, jumlah kelahiran tahunan di Jepang anjlok sekitar 30 persen.

Selisih Angka Kematian dan Kelahiran Makin Lebar

Di sisi lain, jumlah kematian pada 2025 tercatat 1.605.654 jiwa, turun tipis 0,8 persen dari tahun sebelumnya dan menjadi penurunan pertama dalam lima tahun. Namun, selisih antara angka kelahiran dan kematian (natural decrease) justru melebar menjadi 899.845 jiwa, rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Artinya, populasi Jepang terus menyusut secara alami dalam laju yang kian dalam.

Penurunan angka kelahiran terjadi di 45 dari 47 prefektur di Jepang. Tujuh prefektur, termasuk Shimane, Yamagata, dan Aomori, mencatat penurunan lebih dari 5 persen.

Namun ada pengecualian. Tokyo justru mencatat kenaikan 1,3 persen menjadi 88.518 kelahiran, bertambah 4.311 bayi dibanding tahun sebelumnya. Ini menjadi kenaikan pertama di ibu kota dalam sembilan tahun terakhir.

Prefektur Ishikawa juga mencatat kenaikan, dari 6.078 menjadi 6.515 kelahiran. Kenaikan ini terjadi setelah penurunan tajam tahun sebelumnya yang dipicu dampak gempa Semenanjung Noto pada 1 Januari serta kerusakan akibat hujan lebat.

Sekitar 30 persen dari seluruh kelahiran nasional terjadi di kawasan metropolitan Tokyo yang mencakup Tokyo, Kanagawa, Chiba, dan Saitama.

Pernikahan Naik, Tapi Belum Cukup

Jumlah pernikahan pada 2025 naik 1,1 persen menjadi 505.656 pasangan. Angka ini kembali menembus 500 ribu untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir dan menjadi kenaikan dua tahun berturut-turut, seiring pulihnya industri pernikahan pasca pembatasan COVID-19.

Sementara itu, angka perceraian turun 6.983 kasus menjadi 182.969.

Meski ada sedikit perbaikan pada angka pernikahan, pemerintah mengakui tantangan besar tetap ada.

Wakil Sekretaris Kabinet Jepang Masanao Ozaki mengatakan banyak warga yang sebenarnya ingin memiliki anak, tetapi keinginan tersebut belum terpenuhi.

"Pemerintah menyadari bahwa keinginan banyak orang untuk memiliki anak belum terpenuhi secara memadai, dan kami belum berhasil membalikkan tren penurunan kelahiran," ujarnya dalam konferensi pers.

Ia menegaskan pemerintah akan berupaya menciptakan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, meningkatkan pendapatan generasi muda, serta memastikan pekerjaan yang stabil untuk mengurangi kecemasan masa depan.

Tujuannya, menciptakan masyarakat di mana siapa pun yang ingin memiliki anak bisa melakukannya dan membesarkan mereka dengan tenang.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Ngerinya Krisis Populasi di Jepang, Jumlah Bayi yang Lahir Makin Dikit"