![]() |
| Ilustrasi (Foto: Getty Images/ferlistockphoto) |
Belakangan mulai muncul 'sekte-sekte' baru di bulan Ramadan. Seperti kelompok yang memilih sahur full karbohidrat, serta golongan lain yang memutuskan makan hanya full protein.
Dua kelompok ini tentu datang dengan berbagai keuntungan yang ditawarkan, namun tetap saja ada kerugian-kerugian yang juga menanti. Jadi, bijak dalam mengikuti tren juga perlu, sehingga tak merugi layaknya klub Liga Inggris, Chelsea.
Sahur full karbohidrat memang menawarkan rasa kenyang hingga begah, seakan-akan seseorang bisa bertahan hingga magrib datang. Sayangnya, realitas berkata lain.
Makan sahur dengan menu full karbohidrat akan membuat perut lebih cepat terasa kosong, sehingga tubuh akan mulai lemas, konsentrasi buyar, hingga rasa kantuk tak tertahankan.
Hal ini karena cara tubuh dalam mengolah karbohidrat. Rasa kenyang dipengaruhi oleh komposisi zat gizi dan respons gula darah setelah makan, terlebih jika makanan yang dipilih adalah nasi putih dalam jumlah banyak, gorengan, serta minuman manis.
Karbohidrat sederhana seperti nasi putih mudah dicerna tubuh. Proses ini menyebabkan kadar gula darah naik dengan cepat. Kondisi tersebut dikenal sebagai glucose spike. Setelah lonjakan terjadi, kadar gula darah dapat turun dalam waktu relatif singkat. Penurunan inilah yang memicu rasa lemas, mengantuk, dan lapar lebih cepat.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nutrients dan The American Journal of Clinical Nutrition dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa makanan dengan indeks glikemik tinggi memicu fluktuasi gula darah yang lebih besar. Fluktuasi tersebut berpengaruh pada regulasi hormon lapar seperti ghrelin, sehingga keinginan makan muncul kembali dalam waktu singkat.
Kerugian Sahur Full Protein
Di sisi lain, ada golongan sahur full protein dengan memilih makanan-makanan seperti ayam, telur rebus, dan daging. Tujuannya disebutkan agar gula darah tidak naik dan tubuh akan menggunakan lemak sebagai sumber tenaga.
Dokter spesialis gizi klinik dr Raissa E Djuanda, SpGK AIFO-K FINEM mengatakan masyarakat harus berhati-hati dalam menyikapi tren ini. Pasalnya, ada kerugian-kerugian yang mirip dengan tren 'full karbo'.
"Secara teori sebagian benar, tapi tidak sesederhana itu. Tubuh memang bisa memakai lemak sebagai energi saat asupan karbohidrat sangat rendah. Namun, saat puasa, tubuh tetap butuh glukosa untuk otak dan sel darah merah," kata dr Raissa saat dihubungi detikcom, Rabu (25/2/2026).
"Jika karbo terlalu rendah, tubuh bisa memecah protein otot bukan lemak saja. Jadi bukan otomatis langsung bakar lemak. Tren ini tidak disarankan untuk mayoritas orang. Karena resiko cepat lemas dan sulit konsentrasi, dehidrasi lebih cepat, hingga sembelit," sambungnya.
Menurut ilmu gizi, sahur yang dianjurkan adalah dengan menyeimbangkan menu-menu yang ada di piring, baik itu karbohidrat, protein, lemak sehat, hingga serat.
"Contoh nasi merah, telur, ayam, tahu, tempe, alpukat, kacang, sayur, dan buah. Ini memberi energi stabil selama puasa," tutupnya.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Risiko Sahur Hanya Full Karbo Atau Protein, Awas Merugi Kayak Chelsea"
