![]() |
| Foto: Getty Images/EyeEm Mobile GmbH |
Terapi ini terdiri dari fase intensif (2 bulan pertama) dan fase lanjutan (4 bulan atau lebih) untuk memastikan bakteri benar-benar mati dan mencegah kekebalan obat. Kepatuhan minum obat sangat penting agar tidak perlu mengulang pengobatan dari awal.
Kini, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin membawa kabar baik soal uji klinik obat tuberkulosis yang akan segera rampung. Obat tersebut diberikan dengan frekuensi lebih pendek, bahkan satu bulan. Saat ini sedang menyelesaikan uji klinis fase dua.
Bila Badan Pengawas Obat dan Makanan AS atau Food and Drug Administration (FDA) menyetujui untuk fase klinis tiga, obat tersebut bukan tidak mungkin bisa juga digunakan pasien Indonesia.
Menkes jelas melihat peluang tersebut. Agar benar-benar melihat efektivitas ke pengobatan pasien di RI, Indonesia juga menawarkan diri menjadi kandidat lokasi uji klinik fase 3.
Terlebih, keuntungan lain yang didapat adalah potensi memproduksi obat sendiri sehingga tak perlu impor.
"Kita menawarkan diri, di Indonesia, sehingga pasien Indonesia bisa dapat duluan," beber pria yang akrab disapa BGS itu, dalam rapat kerja bersama DPR pada Senin, (204/2026).
"Saya juga meminta supaya Biofarma bisa dilibatkan dari awal. Jadi ini (obat TB yang sedang diteliti) satu bulan makan obat, kemudian disuntik," tuturnya.
Mengonsumsi obat dengan frekuensi waktu lebih pendek menjadi jawaban bagi pasien yang selama ini putus pengobatan di tengah jalan karena merasa terlalu lelah.
"Kenapa nggak obat saja? Obat itu kalau sudah masuk kan akan keluar. Bah kalau disuntik, itu kan darah mutar tersus, obat yang tadinya pil antibiotik itu akan diganti, yang tadinya masuk ke saluran pencernaan menjadi ke darah," kata Menkes.
"Kalau ini jadi, akan menjadi inovasi besar dalam pengobatan tuberkulosis."
Menurutnya, obat TB satu bulan ini setidaknya bisa rampung pada 2029.
Ia mengatakan bahwa ketika suatu obat sudah melewati uji klinis fase 1 dan 2 . Ini berarti telah membuktikan keamanan (safety) dan efektivitas (efikasi).
Pada fase 3, pengujian dilakukan dalam skala populasi yang lebih besar untuk melihat bagaimana obat bekerja di kondisi nyata yang lebih beragam.
"Clinical trial level 3 memang dibutuhkan untuk melihat penerapannya di skala populasi besar. Dan, kami melihat kadang tiap negara punya genetik berbeda," tutur Menkes.
Ia mencontohkan vaksin malaria yang sudah dirilis. Vaksin tersebut cocok untuk masyarakat di Afrika karena uji klinis dilakukan di sana. "Begitu ditaruh di Indonesia, beda."
Sehingga dengan menjadikan Indonesia sebagai lokasi uji klinis fase 3, dinilai memudahkan dalam modifikasi dengan populasi kita.
"Justru dengan menjadi site clinical trial, kecocokan atau modifikasi terapi bisa disesuaikan dengan masyarakat kita. Selain masyarakat juga mendapatkan akses lebih dulu," kata Menkes.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Menkes Tawarkan RI Jadi Lokasi Uji Klinis Fase 3 Obat TBC 1 Bulan"
