![]() |
| Foto ilustrasi: iStock |
Viral penitipan anak (daycare) Little Aresya di Sorosutan, Umbulharjo, Kota Jogja diduga melakukan kekerasan dan diskriminasi terhadap anak-anak yang dititipkan di tempat itu.
Polisi kemudian menggerebek daycare tersebut pada Jumat (24/4/2026). Hingga saat ini, sedikitnya ada 53 anak yang terindikasi mengalami kekerasan dari 103 anak yang dititipkan.
Dimintai konfirmasi terpisah, Kasat Reskrim Polresta Jogja Kompol Riski Adrian membenarkan adanya penggerebekan tersebut.
"Benar, Satuan Reserse Polresta Jogja tadi (Jumat) sore baru saja melakukan penggerebekan sebuah tempat penitipan anak di daerah Umbulharjo," ujar Adrian, dikutip dari detikJogja, Minggu (26/4).
Kekerasan terhadap anak di penitipan anak tersebut diduga sudah terjadi sejak daycare beroperasi selama satu tahun. Polresta Yogyakarta saat ini masih memeriksa sejumlah saksi untuk melengkapi alat bukti.
Lantas, bagaimana dampaknya pada korban?
Psikiater dr Lahargo Kembaren, SpKJ, ikut merasa prihatin dan miris dengan kasus perilaku kekerasan pada anak yang masih kecil. Terlebih, mereka di tempat yang seharusnya memberikan keamanan dan kenyamanan.
"Secara psikologis, kasus kekerasan di daycare seperti yang terjadi di Yogyakarta sangat serius, karena daycare seharusnya menjadi tempat aman pertama di luar rumah," ucap dr Lahargo saat dihubungi detikcom, Minggu (26/4/2026).
"Pada anak batita - balita, satu fondasi tumbuh kembang yang sehat secara fisik dan mental adalah keamanan dan kenyamanan," sambungnya.
dr Lahargo menegaskan dampak yang bisa terjadi pada korban sangat bergantung pada usia, frekuensi kekerasan, dan bentuk kekerasan yang dialami. Pada balita dan anak usia dini, trauma sering tidak muncul dalam bentuk yang bisa disampaikan.
"Trauma sering tidak muncul dalam bentuk 'cerita' yang bisa disampaikan dengan bahasa verbal yang jelas dan baik, tetapi melalui perubahan perilaku," tegas dia.
Menurutnya, gejala yang sering muncul saat anak mengalami perlakuan kekerasan, seperti:
- Anak menjadi lebih takut, mudah menangis, atau sangat lengket pada orang tua.
- Sulit tidur, mimpi buruk, terbangun malam, atau takut ditinggal.
- Regresi perkembangan, misalnya kembali mengompol, rewel berlebihan, atau bicara menjadi lebih sedikit, tidak lancar bicara padahal sebelumnya bisa.
- Menjadi mudah kaget, agresif, atau justru sangat diam dan menarik diri.
- Takut pada orang tertentu, seragam tertentu, atau tempat tertentu seperti daycare.
- Gangguan makan dan penurunan rasa aman dasar (basic trust).
"Yang paling penting dampaknya adalah rusaknya rasa aman. Anak belajar bahwa tempat yang seharusnya melindungi justru menyakiti," kata dr Lahargo.
"Ini bisa memengaruhi kelekatan (attachment), rasa percaya, bahkan perkembangan emosi jangka panjang," pungkasnya.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Dokter Jiwa Bicara Efek Serius Penganiayaan Anak, Dikaitkan Viral Daycare di Jogja"
