![]() |
| Foto: Grandyos Zafna/detikFOTO |
Kasus dugaan pelecehan yang dilakukan 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) menuju babak baru. Belasan terduga pelaku mendapatkan sidang terbuka yang diinisiasi pihak korban.
Sebagai informasi, viral sebuah tangkapan layar percakapan berisikan pelecehan seksual di grup WhatsApp yang diduga dilakukan mahasiswa FH UI.
Pihak Universitas Indonesia (UI) saat ini tengah melakukan penelusuran dan verifikasi secara serius, cermat, dan menyeluruh. Proses ini dilakukan dengan menjunjung tinggi prinsip kehati-hatian dan keadilan.
Pelaku Lebih Berani di Ruang Tertutup
Saat melihat bukti-bukti percakapan di media sosial, banyak warganet yang bertanya-tanya, mengapa para pelaku bisa tampil lebih 'beringas' dalam melakukan pelecehan?
Psikiater Bidang Pengabdian Masyarakat Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI) dr Lahargo Kembaren SpKJ mengatakan hal ini bisa terjadi karena di ruang tertutup, candaan seksual lebih mudah dinormalisasi.
"Ketika satu orang memulai candaan seksual, lalu yang lain tertawa dan ikut menanggapi, perilaku tersebut terasa semakin biasa. Ini disebut group reinforcement. Sesuatu yang salah bisa terasa normal ketika divalidasi oleh kelompok," kata dr Lahargo ketika dihubungi detikcom, Selasa (14/4/2026).
dr Lahargo juga menyinggung soal disinhibition effect yakni fenomena psikologis saat seseorang merasa lebih bebas, terbuka, dan kurang terkendali dalam mengekspresikan diri saat berada di dunia maya (internet).
"Di ruang digital, orang sering merasa lebih berani dibandingkan interaksi tatap muka. Karena tidak melihat reaksi emosional korban secara langsung, empati bisa menurun," katanya.
"Layar sering membuat seseorang lupa bahwa ada manusia yang terluka di balik nama dan foto profil," sambungnya.
dr Lahargo menambahkan aksi-aksi tidak pantas tersebut juga berhubungan dengan kebutuhan validasi. Sebagian pelaku mungkin mencari validasi teman, ingin dianggap lucu, ingin diterima kelompok, hingga superioritas maskulinitas.
"Korban tidak lagi dilihat sebagai manusia utuh, tetapi sebagai objek candaan atau validasi sosial," katanya.
Akhirnya, ketika tertangkap basah, para pelaku seringkali merasionalisasi perilakunya dengan kalimat-kalimat seperti 'cuma bercanda', 'nggak serius', hingga 'kan cuma chat'.
"Padahal secara psikologis ini adalah bentuk pelepasan tanggung jawab moral. Candaan berhenti menjadi candaan ketika martabat orang lain menjadi korbannya," katanya.
"Kekerasan seksual tidak harus berupa sentuhan langsung. Di era digital, kata-kata dan isi percakapan dapat melukai sama dalamnya dengan tindakan fisik, terutama ketika menyerang harga diri dan rasa aman korban," tutupnya.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Gaduh Kasus FH UI, Kenapa Grup WA Bisa Jadi 'Lahan Subur' Pelecehan?"
