Hagia Sophia

13 January 2023

Lebih Aman Main HP atau Lato-lato? Ini Kata Dokter Ortopedi

Pro-kontra lato-lato (Foto: Pradita Utama)

Permainan lato-lato tengah jadi sorotan. Satu sisi suara bisingnya mulai menjengkelkan karena banyak dimainkan di sembarang tempat, di sisi lain dianggap sebagai hal positif karena anak-anak tak lagi sibuk dengan gadget.

Dilematis memang, kecanduan ponsel maupun gadget lain diketahui punya dampak buruk bagi kesehatan. Tetapi berlebihan main lato-lato bukannya tidak lebih baik? Bagaimana kalau cedera?

Dokter ortopedi dengan subspesialisasi hand and microsurgery dari RS Pondok Indah (RSPI) Bintaro, dr Oryza Satria, SpOT(K), menjelaskan memang ada risiko cedera ketika berlebihan main lato-lato. Namun hal ini hanya mungkin dialami jika punya riwayat cedera berat sebelumnya.

"Kalau cuma digantung saja tidak akan ada keluhan apa-apa. Kecuali kalau bermain dalam jangka waktu yang lama, kemudian tangannya itu ada bekas cedera yang berat gitu mungkin akan berpengaruh," kata dr Oryza dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (12/1/2023).

Perhatian khusus menurut dr Oryza perlu diberikan jika pernah punya riwayat patah tulang atau dislokasi pada jari tangan. Pada kondisi ini, permainan lato-lato secara berlebihan memang bisa memperikan dampak negatif.

Selebihnya, dr Oryza mengingatkan bahwa ada banyak kebiasaan sehari-hari yang justru lebih mengkhawatirkan dibanding main lato-lato, salah satunya main ponsel. Gerakan repetitif saat berlebihan main ponsel terbukti bisa memicu kondisi yang disebut carpal tunnel syndrome.

Risiko yang sama juga bisa terjadi akibat kegiatan sehari-hari lainnya seperti berkebun dan naik motor dalam waktu lama. Risiko lain yang dihadapi dari kebiasaan sehari-hari tersebut adalah musculoskeletal disorder (MSD) yang bisa menyerang otot, tulang, persendian, hingga ligamen.

Salah satu pemicu masalah muskoskeletal pada kebiasaan sehari-hari adalah posisi kerja yang tidak ergonomis. Karenanya, dr Oryza menyarankan untuk mencari posisi senyaman mungkin ketika bekerja.

"Khusus di tangan, jadi posisi ergonomis adalah sikunya 90 derajat, tangannya 90 derajat, kemudian pandangan lurus ke depan. Posisi tangan juga jangan terlalu belok," kata dr Oryza.

Selain itu, ia juga menyarankan untuk tidak berlebihan menggerakkan mouse saat bekerja dengan komputer. Dalam jangka pendek terkadang memang tidak berdampak, namun jika dilakukan terus menerus maka dampaknya akan terasa.

Penting dicatat, posisi ergonomis tidak selalu sama pada semua orang. Setting tempat kerja secara individual bisa berpengaruh pada posisi ideal yang bisa dicapai.























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Mendingan Main HP atau Lato-lato? Dokter Ortopedi Beberkan Risiko Keduanya"