Hagia Sophia

06 May 2023

Jalan Panjang India Atasi Masalah Populasi Penduduk di Negaranya

Proses India menjadi negara dengan populasi terbanyak di dunia mengalahkan China. (Foto: Tim Graham/Getty Images)

India pada saat ini sudah berhasil menggeser posisi China sebagai negara dengan populasi terbanyak di dunia. Jumlah penduduk India pada saat ini diketahui sudah mencapai 1,426 miliar jiwa.

Dengan jumlah penduduk yang begitu besar, India tentu akan menghadapi tantangan tersendiri dalam proses pengendalian populasi. Walau begitu, beberapa pihak menilai, India masih jauh lebih baik dalam hal pengelolaan populasi dibandingkan China.

Setengah abad yang lalu India dan China memiliki angka kelahiran yang serupa. India berada di angka 5,6 anak per wanita dan China berada di angka 5,5 anak per wanita.

Angka tersebut berada jauh di atas replacement-level fertility sebanyak 2,1 anak per wanita yang baik untuk menjaga stabilitas populasi sebuah negara. Untuk mengatasi pengendalian populasi, India dan China memiliki jalan yang sangat berbeda.

Strategi Berliku India

India dinilai memiliki kebijakan yang begitu berliku dan lambat, namun pasti untuk mengatasi permasalahan populasi. Semenjak 1952, pemerintah India sudah mulai menjalankan program keluarga berencananya.

Program keluarga berencana di India menyediakan layanan kesehatan reproduksi, pilihan kontrasepsi untuk pasangan, hingga memberikan kebebasan masyarakat memutuskan jumlah anak yang diinginkan.

Strategi tersebut nyatanya tidak langsung berhasil. Jumlah penduduk yang ada di India pada tahun 1961 hingga 1971 justru mengalami peningkatan yang cukup besar.

"Strategi tersebut tak langsung sukses. Laju pertumbuhan penduduk awalnya meningkat dari 21,6 persen pada tahun 1961 menjadi 24,8 persen pada tahun 1971," ucap Direktur Eksekutif Yayasan Kependudukan India Poonam Muttreja dikutip dari Aljazeera, Jumat (5/5/2023).

"Jumlah penduduk meningkat dari 439 juta menjadi 548 juta. Sebagian besar adalah hasil dari peningkatan harapan hidup yang naik dari 45 tahun menjadi 49 tahun pada dekade tersebut," sambungnya.

Strategi India Perlahan Menunjukkan Hasil

Karena peningkatan populasi yang tak terduga, Perdana Menteri Indira Gandhi memutuskan pemberlakuan keadaan darurat nasional pada tahun 1975. Pemerintah India saat itu bahkan memberlakukan sterilisasi paksa pada masyarakat, khususnya laki-laki.

Dua tahun berselang pada 1977, status kedaruratan tersebut akhirnya dicabut pemerintah India. Pihak pemerintah akhirnya kembali menggunakan strategi lama dan perlahan membuahkan hasil. Tingkat pertumbuhan penduduk mulai menurun pada tahun 1981 dan terus berlanjut hingga saat ini.

"Pada tahun 1991 tingkat kesuburan India menurun menjadi 4, lalu menurun menjadi 3,3 pada tahun 2001 dan 2,5 pada tahun 2011. Akhirnya pada tahun 2020 India mencapai replacement-level fertility. Ini tonggak penting dalam transisi demografisnya," jelasnya.

Langkah Esktrem China

China melakukan langkah ekstrem untuk bisa menurunkan tingkat kelahiran di negaranya. Pada tahun 1970-an China memberlakukan batasan usia untuk menikah yang mana perempuan minimal berusia 23 tahun dan laki-laki 25 tahun.

Tidak hanya itu saja, pada tahun 1979 China bahkan memberlakukan peraturan satu anak dan memberikan denda pada pasangan yang melahirkan lebih dari satu anak. Sterilisasi paksa dan aborsi juga marak dilakukan pada saat itu.

Karena langkah tersebut, angka kelahiran di China langsung anjlok yang tadinya 5,5 kelahiran per wanita pada tahun 1971 menjadi 2,7 kelahiran per wanita pada tahun 1979.

Pada tahun 2020 angka kelahiran di China bahkan menyentuh angka 1,3 kelahiran per wanita yang mana berada di bawah replacement-level fertility.

Strategi Ekstrem China Menjadi Bumerang

Angka kelahiran di China dinilai menurun terlalu cepat. Hal tersebut justru dapat menimbulkan permasalahan lain.

"China sekarang telah menyadari bagaimana kebijakan itu telah menjadi bumerang, yang menyebabkan rasio jenis kelamin lebih banyak pria daripada wanita dan populasi yang menua dengan cepat," jelas Poonam.

Kejadian tersebut justru menyebabkan krisis populasi dan memaksa China melakukan serangkaian kebijakan untuk meningkatkan angka kelahiran. Pada tahun 2022, untuk pertama kalinya populasi China menyusut dalam 60 tahun terakhir hingga 1 juta orang. Hal ini juga menyebabkan posisi China sebagai negara berpopulasi paling besar di dunia digeser oleh India.

"Pemerintah akhirnya mengubah kebijakannya pada tahun 2016 untuk mengizinkan keluarga memiliki dua anak dan menaikkan standar menjadi tiga anak pada tahun 2021," pungkas Poonam.





























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Jalan Panjang India Geser China Jadi Negara Populasi Terbanyak di Dunia"