Hagia Sophia

17 May 2023

Wanita di China Anggap Menikah dan Punya Anak Merupakan Beban yang Berat

Alasan beberapa wanita di China enggan memiliki anak. (Foto: Getty Images/Kevin Frayer)

China tengah mengalami krisis populasi, untuk pertama kalinya menyusut dalam 60 tahun terakhir. Biro Statistik China melaporkan penurunan jumlah populasi China sebanyak 850 ribu pada tahun 2022.

Penurunan populasi yang terjadi di China ditengarai terjadi karena kebijakan satu anak yang dijalankan oleh pemerintah pada tahun 1980. Kebijakan yang awalnya dilakukan untuk mengendalikan populasi justru menjadi penyebab krisis populasi di China.

Pada tahun 2015, peraturan satu anak akhirnya diberhentikan oleh pemerintah China. Walau begitu, angka populasi di China masih terus menurun.

Selain kebijakan pemerintah China yang menyebabkan penurunan populasi, keengganan wanita di China untuk memiliki anak juga menjadi salah penyebabnya.

Wenyi Hai (24) warga Ji'an, China menceritakan bahwa keluarganya kerap menanyakan soal pernikahan dan anak ketika sedang berbincang.

"Biasanya, saya izin pergi dan menutup telepon ketika orang tua saya mulai berbicara tentang suami dan bayi. Tetapi ketika saya berada di rumah mereka, tidak mudah untuk keluar dari topik itu," kata Hai dikutip dari Aljazeera, Selasa (16/5/2023).

Tidak hanya Pei dan Hai, seorang atlet bernama Mona Zhao (25) bahkan mengaku sudah muak dengan pembahasan soal berkeluarga.

"Kami telah membicarakan hal itu jutaan kali dan saya muak dengan diskusi itu. Mereka tidak bisa menerima bahwa tidak masuk akal bagi saya untuk memulai sebuah keluarga," jelasnya.

Beban Wanita China saat Menjadi Ibu

Hai menjelaskan bahwa beban menjadi seorang ibu di China begitu berat.

"Saya tidak ingin hidup saya hanya tentang mengurus anak-anak, melakukan pekerjaan rumah dan mengurus orang tua suami saya ketika mereka sudah tua, tapi saya merasa banyak keluarga mengharapkan hal itu dari seorang wanita yang sudah menikah di China," kata Hai.

"Selain itu, biasanya hanya bergantung gaji suami tidak cukup untuk sebuah keluarga. Oleh karena itu kita harus melakukan pekerjaan lain selain urusan di rumah," sambungnya.

Studi menunjukkan bahwa wanita di China memang memikul sebagian besar tugas rumah tangga. Hal tersebut menghabiskan waktu dua kali lebih banyak untuk pekerjaan rumah daripada suami.

Hai juga menambahkan bahwa ia juga ingin memiliki karier yang bisa ia banggakan.

"Saya akan dipromosikan sebentar lagi. Memiliki keluarga sekarang tentu dapat berisiko untuk pekerjaan saya," pungkasnya.




























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Populasi Anjlok, Wanita di China Anggap Nikah-Punya Anak Tak Masuk Akal"