Hagia Sophia

10 June 2023

Capai Rekor Polusi Tertinggi Sepanjang Sejarah, Warga New York Keluhkan Susahnya Bernapas

Langit New York berubah menjadi oranye karena kebakaran hutan di Kanada. (Foto: David Dee Delgado/Getty Images)

Jutaan orang di Amerika Serikat berada di bawah peringatan kualitas udara 'super' berbahaya imbas kebakaran hutan Kanada menyapu wilayah Pantai Timur. Sejumlah sekolah di New York dan wilayah Washington ditutup sementara, tidak ada kegiatan yang diperbolehkan dilakukan di luar ruang.

Begitu pula dengan pemberhentian operasional di bandara, jarak pandang buruk tidak memungkinkan keberangkatan. Langit oranye yang dipenuhi dengan asap mengganggu kesehatan masing-masing warganya seperti keluhan sesak napas, mata terasa panas, pusing, sakit kepala, juga mual.

Dokter menyebut gejalanya semakin parah harus mendapatkan perhatian medis.

Inilah yang mereka ingin semua orang tahu tentang tetap sehat dan menghindari masalah saat udara penuh asap.

"Ini seperti partikel kecil yang sangat kecil yang masuk jauh ke dalam saluran udara. Itu bukan alergen; itu iritasi. Jadi iritasi dapat memengaruhi paru-paru siapa pun dan menyebabkan kamu mulai batuk dan merasakan gatal di tenggorokan," kata dr Shilpa Patel, direktur medis Klinik Asma DC National IMPACT DC di Washington.

"Jika melihat Air Quality Index, itu berada di zona ungu, yang, sebelumnya, saya jarang melihatnya di zona ungu di daerah kami," beber dia sembari menekankan zona ungu adalah level paling berbahaya kualitas udara.

Sejumlah warga New York, mengeluhkan bagaimana rasanya kesulitan bernapas di tengah polusi yang mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah, dengan AQI di 413 pada Rabu (7/6) kemarin.

"Ya rasanya seperti menghirup belerang, sangat sulit bernapas," tutur Aron Jacob, salah satu warga di Toronto, AS.

"Mungkin ini dampak sebenarnya krisis iklim," sambungnya.

Warga lainnya di New York, Denelky Concepcion, mengaku belum pernah berada di kondisi seperti ini sebelumnya. Ia merasa benar-benar tidak bisa bepergian ke manapun. Pasalnya, kabut dan efek polusi imbas kebakaran bak memenuhi seluruh kota.

Begitu juga dengan yang dialami lansia di New York, Pauline. Ia yang semula terbiasa berjalan kaki untuk berolahraga, kini terpaksa berdiam diri di rumah demi menghindari ancaman gejala yang ditimbulkan lantaran termasuk kelompok rentan.

"Saya diminta sebisa mungkin jangan keluar rumah," beber Pauline.

Banyak warga yang menggambarkan horornya kualitas udara di sana bak berada di awan yang dipenuhi dengan asap hingga terasa sesak.
























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Curhat Warga New York Sulitnya Bernapas Imbas Polusi Terburuk Sepanjang Sejarah"