Hagia Sophia

21 July 2023

Banyak Calon Dokter Dijadikan Asisten Pribadi Seniornya, Ungkap Menkes

Ilustrasi dokter (Foto: Getty Images/Juanmonino)

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menyayangkan tindak perundungan yang telah terjadi di lingkungan dokter selama berpuluh-puluh tahun. Ia menyebut, banyak calon dokter yang dijadikan sebagai pembantu atau asisten pribadi oleh para seniornya, bukan malah mendapat ilmu.

"Suruh nganterin laundry, bayarin laundry, nganterin anak, kemudian ngurusin parkir, ambilin itu, ambilin sana," ucap Menkes dalam konferensi pers, Kamis (20/7/2023).

Menkes membeberkan, ada calon dokter yang disuruh seniornya mencari sendok sebanyak 200 pukul 12 malam. Sendok tersebut nantinya digunakan untuk makan-makan di tempat seniornya. Apabila tak mampu melakukan tugas-tugas yang disuruh para seniornya, calon dokter itu justru akan dicaci maki.

"Perannya lebih bukan untuk mengajar, ya mungkin dipakai untuk mengajar karakter, tapi kalau saya lihat isinya jarkom itu ada juga sebagian besar suruh ini, mencari sendok plastik, nyiapin foto, segala macam. Kalau satu menit, dua menit tidak dijawab, dicaci maki 'kok gini aja nggak bisa, kamu mampu apa nggak sih?'," ucap Menkes.

Tak hanya itu, Menkes juga menyebut ada juga calon dokter yang disuruh menjadi pekerja pribadi para seniornya untuk menulis tugas, membuat jurnal, atau bahkan penelitian. Padahal, tugas-tugas tersebut seharusnya dikerjakan oleh seniornya.

"Jadi akibatnya kasihan juga juniornya, dia seharusnya belajar benar-benar memperdalam spesialisasi yang diinginkan, jadi kemudian disuruh mengerjakan sebagai asisten pribadi, menyelesaikan tugas-tugas seniornya yang tidak ada hubungan dengan spesialisasinya," tutur Menkes.

Adanya 'tradisi' Perundungan yang terjadi di dunia kedokteran tak hanya menyebabkan kerugian fisik, tetapi juga mental dan finansial bagi peserta didik. Menkes mengungkapkan, para calon dokter ada yang disuruh untuk mengumpulkan uang puluhan hingga ratusan juta demi menyewakan rumah, tempat bola, membeli makanan mahal, hingga gadget baru untuk para seniornya.

"Bisa menyiapkan rumah untuk kumpul-kumpul bagi senior, kontraknya setahun 50 juta, bagi rata dengan juniornya. Atau praktik suka sampai malam, sama rumah sakit dikasih makanan malam, tapi makan malam nggak enak. Kita maunya makan Jepang, jadi setiap malam harus mengeluarkan 5 juta atau 10 juta untuk seluruhnya makanan Jepang," kata Menkes.

"Kadang-kadang ada juga yang 'Aduh handphone-nya tidak bagus, wah Ipadnya sudah tidak bagus,'. Dan itu tidak pernah berani disampaikan oleh para juniornya. Nah akibatnya saat dia jadi senior, dia melakukan hal yang sama," sambungnya lagi.

Karenanya, Menkes dan pihaknya akan menindak tegas dan memutuskan praktik perundungan di dunia kedokteran yang sudah berjalan bertahun-tahun. Hal ini menurutnya bertujuan untuk menciptakan lingkungan pendidikan kedokteran yang aman, nyaman, dan kondusif.



























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Tradisi Bully Menahun, Menkes Ungkap PPDS Sampai Dijadikan Pembantu Pribadi"