Hagia Sophia

08 July 2023

Makin Banyak Anak Muda di Indonesia Suka Merokok, Inikah Alasannya?

Ilustrasi rokok. (Foto: iStock)

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, persentase penduduk Indonesia dengan usia lebih dari lima tahun yang merokok sebesar 23,25 persen pada 2022. Angka itu 'hanya' turun 0,55 persen poin dari tahun lalu di 23,78 persen.

Sementara perokok dewasa di Indonesia diperkirakan mencapai 68 juta orang. Rupanya, penggunaan rokok yang masif juga berkaitan dengan kandungan bahan perasa di sejumlah rokok tembakau kretek maupun putih.

Mirisnya, ini diyakini sebagai salah satu faktor tren perokok di usia muda tak bisa dihindari.

Riset terkait penggunaan rokok di Indonesia yang dirilis jurnal BMJ menunjukkan keterkaitan di antara keduanya. Hal ini juga mengacu pada pernyataan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang menekankan bahan kimia perasa teridentifikasi sebagai promosi penggunaan tembakau.

Para peneliti di Institute of Global Tobacco Control Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health menemukan beberapa jenis rokok di Indonesia memiliki kadar perasa kimia yang tinggi.

"Keberadaan berbagai macam perasa dan ketersediaannya yang luas ini mengkhawatirkan bukan hanya karena senyawa perasa memiliki kaitan dengan berbagai masalah kesehatan (seperti edema paru-paru berdarah, infeksi saluran pernafasan dan peradangan akut) , tetapi juga karena adanya variasi rasa ini mendorong penggunaan dan memperluas pasar konsumen produk tembakau yang mematikan," terang para ahli.

Adapun beberapa perasa kimiawi yang dipromosikan selama ini adalah senyawa cengkeh (seperti eugenol), menthol, dan perasa kimiawi tambahan lainnya.

IGTC meneliti setidaknya 24 jenis merek kretek dan rokok putih. Peneliti kemudian mencari kadar kandungan perasa kimia di tiap batangnya. Ada 180 perasa kimia individual yang diteliti, di antaranya eugenol (senyawa perasa cengkeh), empat jenis senyawa cengkeh yang lain, dan menthol.

Kandungan eugenol amat tinggi dilaporkan pada 24 merek kretek yaitu 2,8-33,8 mg per batang. Tetapi, laporan yang tidak ditemukan di semua merek rokok putih.

Sementara mentol terdeteksi pada 14 dari 24 jenis kretek, dengan tingkat yang bervariasi antara 2,8 hingga 12,9 mg per batang. Selain itu, mentol juga ditemukan pada 5 dari 9 merek rokok putih, dengan nilai dari 3,6 hingga 10,8 mg per batang. Perasa kimia lainnya, seperti rasa buah-buahan, juga ditemukan pada banyak kretek dan rokok putih yang diteliti.

"Perasa meningkatkan daya tarik produk tembakau dan tingkat konsumsinya. Hal ini cukup jelas dari hubungan antara keberadaan zat perasa di produk tembakau dengan biaya kesehatan dan sosial yang menghabiskan sekitar US$ 1,6 juta pada tahun 2019 dan jumlah kematian yang berkaitan dengan tembakau sekitar 225.000 per tahun," ujar Beladenta Amalia peneliti post-doctoral di IGTC dan juga co-author dalam penelitian ini.

Beladenta mengimbau agar pemerintah segera mengkaji ulang penggunaan bahan perasa kimiawi yang disimpulkan menjadi pemicu banyaknya peminat rokok. Khususnya yang terjadi di kaum muda.

Mengingat, sekitar lebih dari 225 ribu orang di Indonesia setiap tahunnya meninggal akibat merokok atau penyakit lain yang berkaitan dengan tembakau.

"Berbagai macam bahan kimia perasa yang kami identifikasi, termasuk mentol dan senyawa terkait cengkih (misalnya, eugenol), menunjukkan bahwa produk tersebut dirancang untuk memaksimalkan daya tarik di antara spektrum konsumen yang luas dengan preferensi rasa yang berbeda-termasuk kaum muda," kata Beladenta.

"Kami merekomendasikan pelarangan nasional secara komprehensif atas produk tembakau dengan perasa di Indonesia, karena penelitian telah menunjukkan bahwa tindakan ini dapat mengurangi penggunaan tembakau dan meningkatkan usaha berhenti merokok, sehingga mencegah kematian dan penyakit yang tidak perlu," pungkasnya.
























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Ternyata Ini Alasan Anak Muda RI Makin Banyak yang Merokok"