Hagia Sophia

21 August 2023

Krisis Populasi Landa Jepang, Tapi Kota Ini Miliki Angka Kelahiran Tinggi

Populasi di Jepang. (Foto: Marc Fernandes/NurPhoto via Getty Images)

Jepang dilanda krisis populasi imbas warganya diduga memilih untuk tak menikah dan memiliki anak. Kementerian Dalam Negeri Jepang menyebut jumlah populasi di negara itu menyusut lebih dari 800 ribu untuk pertama kalinya.

Penurunan dilaporkan hampir di semua prefektur Jepang. Catatan ini menjadi penanda Jepang 14 kali berturut-turut melaporkan rendahnya populasi sejak 2009 hingga 2022. Secara total populasi saat ini berada di angka 125,4 juta.

Meski begitu, ada salah satu kota di Jepang yang dianggap ajaib dan menjadi contoh lantaran angka kelahiran bayi tinggi. Kota tersebut adalah Nagi di Prefektur Okayama.

Menurut laporan pemerintah Jepang, angka kesuburan Nagi pada tahun 2019 sebesar 2,95. Angka ini terbilang lebih tinggi dibandingkan angka kesuburan secara nasional di Jepang yang turun menjadi 1,26 pada tahun 2022, jauh di bawah angka 2,1 yang diperkirakan para ahli demografi diperlukan untuk memastikan populasi yang stabil.

Lebih sedikit kelahiran bayi, artinya tenaga kerja terus menyusut dan tak akan mampu mendukung orang lanjut usia di negara itu saat jumlah populasinya bertambah.

Perdana Menteri Fumio Kishida telah memperingatkan bahwa Jepang sudah berada di ambang ketidakmampuan untuk mempertahankan sistem jaminan sosialnya.

"Sekarang atau tidak sama sekali mengenai kebijakan tentang kelahiran dan membesarkan anak, ini adalah masalah yang tidak bisa menunggu lebih lama lagi," katanya dalam pidato kebijakan di bulan Januari. Bulan berikutnya, ia melakukan ziarah sendiri untuk bertemu dengan orang tua dan pejabat di Nagi, yang berpenduduk 5.700 jiwa, dikutip dari Los Angeles Times.

Takamasa Matsushita, direktur perencanaan informasi kota mengatakan, sejak saat itu kota Nagi menjadi tuan rumah atau menjadwalkan kunjungan lebih dari 100 delegasi anggota majelis dan pegawai pemerintah dari bagian lain Jepang.

Beberapa pejabat Korea Selatan juga berkunjung awal tahun ini di tengah meningkatnya kekhawatiran atas tingkat kelahiran 0,78 negara mereka yang termasuk terendah di dunia.

"Saya benar-benar tidak merasakan masalah angka kelahiran," pengakuan Sachie Genba, 42, yang tumbuh di kota tetangga Tsuyama dan membesarkan kedua anaknya di Nagi.

"Banyak ibu di sini bahkan punya empat anak," sambungnya lagi.

Pada tahun 2004, Nagi mulai memberikan pelayanan pengobatan gratis untuk anak-anak hingga SMP. Itu juga mulai membayar orang tua 100.000 yen atau sekitar Rp 10 juta, kemudian sekitar $1.000 atau sekitar Rp 15 juta untuk setiap anak yang lahir setelah anak kedua mereka.

Kebijakan ramah keluarga pun sampai saat ini terus berkembang. Perawatan medis di Nagi sekarang gratis untuk anak-anak hingga sekolah menengah. Insentif 100.000 yen dimulai dengan anak pertama, bukan anak ketiga.

Selain itu, Nagi juga telah menambahkan kebijakan lain untuk mendorong keluarga memiliki anak, seperti subsidi penitipan anak, biaya pendidikan, dan perawatan infertilitas.


























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kota di Jepang Ini Punya Angka Kelahiran yang Besar Meski Dilanda Krisis Populasi"