Hagia Sophia

21 August 2023

Polusi Udara Sedang Meningkat, Olahraga Outdoor Apa yang Aman?

Ilustrasi polusi udara DKI (Foto: detikHealth/AN Uyung Pramudiarja)

Kualitas udara di beberapa wilayah, termasuk DKI Jakarta dan Tangerang sangat mengkhawatirkan beberapa waktu belakangan. Hal ini tentunya menjadi kabar kurang enak bagi masyarakat yang kerap beraktivitas di luar ruangan, salah satunya berolahraga.

Lantas, masih bisakah berolahraga di tengah polusi udara yang buruk?

Mengacu pada sebuah penelitian 2016, dokter spesialis paru dr Erlang Samoedro, SpP(K), menjelaskan bahwa olahraga, seperti bersepeda dan berjalan kaki masih bisa dilakukan di tengah polusi udara buruk. Meski begitu, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan bagi mereka yang mau melakukannya.

dr Erlang menjelaskan bahwa ada yang namanya tipping point dan break-even point pada kadar polutan. Dua hal tersebut merupakan titik atau patokan saat seseorang mau berolahraga di tengah polusi udara yang buruk.

Misalnya, seperti olahraga bersepeda disarankan hanya boleh 30 menit dengan tipping point di PM 2.5 95 mikrogram/m3 dan break-even point 160 mikrogram/m3.

"Jadi bisa polusi udara sampai 95, kita bisa melakukan olahraga bersepeda selama 30 menit. Dan break-even pointnya di 160 mikrogram/m3. Jadi bersepeda selama 30 menit, itu bisa 95-160 mikrogram/m3. Jadi break evennya di 30 menit di PM2.5, 160 mikrogram/m3," ucapnya dalam konferensi pers, Jumat (18/8/2023).

"Kalau kita sekarang 152 pada pagi hari, itu kita masih bisa melakukan sepeda selama 30 menit. Karena kan tadi kita ambil patokannya 160, masih bisa bersepeda sampai 30 menit," ucapnya lagi.

Sementara untuk olahraga berjalan kaki, bisa dilakukan hanya 30 menit dengan break event point pada PM2,5 di atas 200 mikrogram/m3.

"Kalau sudah di atas 200 mikrogram, kita masih bisa berjalan kaki selama 30 menit. Nah untuk kisaran WHO, tipping point dan break-even point itu di 7 jam dan 16 jam untuk berjalan kaki di PM2.5, 22 mikrogram/m3. Tapi ini jarang sekali ya, karena PM 2.5, 22 mikrogram/m3 ini mungkin di atas gunung aja kali ya yang jarang ada kendaraan," imbuh dr Erlang.

Apabila masyarakat melakukan olahraga bersepeda dan berjalan kaki lebih dari 30 menit pada kadar polutan di tipping point dan break-even point tersebut, dr Erlang mengatakan bisa menyebabkan penurunan fungsi paru dan meningkatkan kelainan metabolisme.

"Dan 30 menit olahraga di level polusi yang sangat tinggi akan meningkatkan ikatan COHb (hemoglobin). Seperti kita ketahui CO (karbon monoksida) itu berasal dari pembakaran, seharusnya diberikan oksigen, jadi diubah ikatannya jadi CO," ucapnya lagi.

Karenanya, ia mengimbau bagi masyarakat yang ingin berolahraga perlu memperhatikan waktu, lokasi, serta kadar polutan udara di wilayah yang dijadikan tempat olahraga.

"Jadi penting sekali untuk melihat hal itu," katanya lagi.


























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Polusi Udara Ugal-ugalan, Olahraga Outdoor Masih Aman? Dokter Paru Beri Saran"