Hagia Sophia

30 September 2023

Ini Dampaknya ke Jantung Bila Jalan Kaki Tiap Hari

Foto: Getty Images/iStockphoto/mamypuk

Sudah menjadi rahasia umum, olahraga dibarengi pola makan sehat adalah kunci untuk memiliki jantung sehat. Sebab tak bisa menutup mata, penyakit jantung bisa mengancam siapa saja tanpa memandang usia. Tak terkecuali, orang-orang usia muda yang sehari-harinya jarang berolahraga, baik karena 'mager' karena terlalu sibuk bekerja.

Menurut dokter spesialis jantung dan pembuluh darah sekaligus Guru Besar Aritmia Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr Yoga Yuniadi, SpJP(K), untuk menjaga kesehatan jantung, orang-orang berusia muda bisa menerapkan olahraga yang tergolong ringan (low dan moderate intensity). Di antaranya, yakni sesimpel jalan kaki.

"Yang bagus adalah olahraga yang sifatnya aerobik untuk kesehatan jantung. Apa misalnya? Jalan cepat, jogging, bersepeda, berenang. Itu semua olahraga yang sifatnya aerobik. Karena dia menggunakan otot-otot yang mayor dan dia ada pada aerobik, tidak terlalu memaksakan diri," ungkapnya saat ditemui detikcom dalam konferensi pers Hari Jantung Sedunia 2023, Selasa (26/9/2023).

Lantas jika seseorang tertarik berolahraga demi menjaga kesehatan jantung, adakah patokan untuk mengetahui apakah jenis olahraga yang dipilih sudah tepat atau belum? Adakah tanda-tanda untuk mengetahui, apakah jenis olahraga yang diambil tergolong terlalu ringan atau terlalu berat?

Menjawab itu dr Yoga menjelaskan, olahraga tergolong ke dalam tingkatan low intensity, moderate intensity, vigorous intensity, dan maximal intensity. Untuk mengetahui level intensitas olahraga, seseorang bisa mengacu pada kemampuan berbicara dan bernyanyi saat melakukan gerakan olahrgaa.

"Kalau yang low intensity, kita bisa mengobrol selagi berolahraga. Tapi kalau yang moderate, kita masih bisa ngomong tapi nggak bisa bernyanyi. Kalau yang low masih bisa bernyanyi sambil olahraga Kalau yang vigorous, napas juga sudah susah," tutur dr Yoga.

Dalam kesempatan tersebut juga, dr Yoga menyoroti banyaknya orang berusia muda di Indonesia yang terkena penyakit jantung, dalam kisaran usia produktif 40 hingga 60 tahun. Menurutnya, kondisi tersebut tak terlepas dari banyaknya usia muda yang sehari-harinya sibuk bekerja, hingga tidak memiliki waktu untuk berolahraga.

"Banyak studi membuktikan ada pengaruh sedentary lifestyle, kebiasaan malas gerak. Kita tahu sendiri teknologi semakin canggih dengan gampang-nya pesan makanan lewat genggaman jari kita. Sekarang kita semakin dimanjakan," bebernya.

"Sehari-hari kita di Jakarta ini berangkat kerja jam 6 pagi; pulang sudah maghrib capek. Nggak sempat olahraga. Kondisi seperti ini turut memicu penyakit jantung," pungkas dr Yoga.




























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Tak Main-main, Sedahsyat Ini Efek Jalan Kaki Tiap Hari ke Jantung"