Hagia Sophia

07 February 2024

Tidak Hanya Serang Usia Dewasa, Hampir 19 Persen Anak Indonesia Alami Hipertensi

Ilustrasi anak dirawat. (Foto: Getty Images/iStockphoto/gorodenkoff)

Hipertensi atau tekanan darah tinggi kerap dianggap hanya 'menyerang' usia dewasa. Padahal, faktanya 18,9 persen anak usia enam hingga 18 tahun di Indonesia ikut mengalami hipertensi.

Angka ini terbilang tinggi bila dibandingkan dengan laporan banyak negara lain misalnya Amerika Serikat 4,2 persen, Brasil 5,5 persen, Afrika 5,5 persen. Sementara tren di China kurang lebih tidak jauh berbeda dengan Indonesia yakni 18,4 persen pada usia anak enam sampai 13 tahun.

"Indonesia termasuk tinggi, kalau ada anak 100 berarti hampir 19 orang yang terkena hipertensi," beber Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Nefrologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr dr Heru Muryawan, SpA (K) dalam webinar daring, Selasa (6/2/2024).

Dirinya menyebut hipertensi terbagi menjadi dua yakni primer dan sekunder. Kebanyakan kasus hipertensi pada anak merupakan hipertensi sekunder.

Artinya, ada riwayat penyakit yang menyertai kondisi tekanan darah tinggi. Dari sekian banyak kasus yang ditemukan, lebih dari 90 persen anak terkena hipertensi akibat mengidap penyakit ginjal.

"Sebagian besar hipertensi pada anak itu karena penyakit ginjal, ini yang membuat alasan kenapa kita mesti memperhatikan dengan betul, karena jika berlanjut pada dewasa, dia ginjalnya sakit sampai dewasa, kalau tidak ditangani dengan baik," imbaunya.

Kondisi lain yang menyertai adalah penyakit jantung hingga obesitas. Orangtua perlu mewaspadai hipertensi pada anak dengan mulai melakukan skrining rutin minimal setahun sekali sejak buah hati berusia tiga tahun.

dr Heru juga tidak menampik kemungkinan hipertensi pada anak bersifat genetik, tetapi hal tersebut masih dianalisis lebih lanjut.

"Kalau ada keluarganya yang sakit hipertensi biasanya pada anak-anaknya juga bisa, tetapi bisa terkena, bisa tidak. Yang sudah pasti anak dengan penyakit jantung bawaan, kurangnya aktivitas," ujarnya.

Anak dengan minim aktivitas berisiko mengalami hipertensi lantaran pembuluh darah memerlukan elastisitas, kelenturan, sehingga bisa tidak beraktivitas dalam jangka waktu lama risiko tersebut otomatis meningkat.

Hal yang juga tak kalah penting adalah menjaga batasan gula, garam, dan lemak agar tidak berlebihan.

"Kemudian bapak dan ibunya merokok, ini juga meningkatkan risiko anak terkena hipertensi, selain kondisi lainnya obesitas, dan anak yang lahir prematur," sambungnya.

Anak yang terlahir prematur biasanya berbobot di bawah 1,5 kg, pada kondisi tersebut banyak orangtua mengupayakan beragam cara agar BB anak cepat bertambah.

"Anak yang lahir dengan bb rendah bb normal anak 2,5 sampai 4 kg, ini bisa 1,5 kg, ortu pengen cepat-cepat gendut, maka diberi minuman yang berlebihan sehingga kelebihan BB, kemudian usia 7 tahun usia mereka-mereka ini biasanya akan menderita hipertensi," tutur dia.

"Bayi-bayi yang kecil, prematur, kenaikan BB-nya biasa-bisa aja, tidak usah dipaksa supaya dia lebih gendut," pesannya.


























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Nyaris 19 Persen Anak RI Kena Hipertensi, Kok Bisa? IDAI Ungkap Pemicunya"