Hagia Sophia

06 March 2024

Peneliti Temukan Objek yang Lebih Terang dari Matahari di Alam Semesta

Ilustrasi matahari (Foto: Getty Images/iStockphoto/Pitris)

Para peneliti mengklaim telah menemukan objek paling terang yang pernah diamati di jagat alam semesta. Temuan ini melibatkan objek luar angkasa jauh yang dikenal dengan quasar.

NASA menjelaskan quasar ini sebagai lubang hitam supermasif yang sangat terang, jauh, dan aktif dengan ukuran jutaan hingga miliaran kali dari massa Matahari. Cahaya yang dihasilkan quasar mengungguli semua bintang dan pancaran serta anginnya membentuk galaksinya.

Sekelompok ilmuwan yang dipimpin oleh peneliti asal Australia, mengidentifikasi quasar super terang dengan menggunakan teleskop super besar milik The European Southern Observatory's (ESO's) yang terletak di Chile untuk mengumpulkan sebagian besar data. Sebagian data tambahan lainnya didapatkan dari Siding Spring Observatory Australia.

Quasar yang berjarak sekitar 12 miliar tahun cahaya dari Bumi, diperkirakan sudah ada sejak awal mula alam semesta. Satu tahun cahaya adalah jarak yang ditempuh cahaya dalam setahun, sekitar 9,5 triliun kilometer.

Diketahui, objek ini pernah diteliti sebelumnya. Namun para ilmuwan mengatakan di masa lalu mereka salah mengidentifikasi objek tersebut, mereka kira adalah bintang. Quasar yang baru diidentifikasi ini sangat besar sehingga lubang hitamnya mampu menelan setidaknya satu Matahari per hari.

Dalam laporan terbaru tentang quasar ini yang dipublikasikan di Nature Astronomy dengan judul 'The Accretion of Solar Mass per Day by a 17-billion Solar Mass Black Hole'. Quasar hanya muncul sebagai titik kecil pada gambar, namun para ilmuwan mengatakan mereka membayangkan sebagai tempat yang sangat kuat dan aktif.

Para peneliti juga mengatakan lubang hitam tersebut diperkirakan memiliki piringan beredar yang berisi gas dan materi lain dari bintang yang tertelan. Piringan itu berputar terus menerus seperti badai yang intens dan aktif.

"Quasar ini adalah tempat paling kejam yang kita ketahui di alam semesta," sebut pemimpin penelitian, ahli astronomi dan professor Australian National University, Christian Wolf dikutip detikINET dari VOA, Selasa (5/3/2024).

Di sisi lain, dirinya menyadari bahwa penelitian ini selain mencari kepastian yang sulit juga memberikan pengalaman yang menyenangkan dari pencarian ini.

"Selama beberapa menit sehari, saya merasa seperti anak kecil lagi, bermain dan berburu harta karun. Dan sekarang, saya membawa semua yang telah saya pelajari sejak lama," lanjutnya.

ESO pertama kali yang menemukan objek terang tersebut, yang dikenal sebagai J0529-4351 pada tahun 1980. Saat itu, objek tersebut diidentifikasi atau diklasifikasikan sebagai bintang dan terkini mereka diidentifikasi sebagai quasar.

Pengamatan terbaru dan pemodelan komputer menunjukkan bahwa quasar tersebut mengambil material dalam jumlah yang setara dengan 370 Matahari per tahun, atau sekitar satu per hari. Peneliti sebut diperlukan lebih banyak lagi pengamatan untuk memahami sepenuhnya tingkat pertumbuhan objek tersebut.

Profesor astronomi dan fisika di University of Yale, Priyamvada Natarajan menyebutkan quasar ini adalah objek yang menarik. Karena berada di depan mata namun salah dipersepsikan.

"Hal yang menarik tentang quasar ini adalah ia bersembunyi di depan mata dan sebelumnya salah diklasifikasikan sebagai bintang," ucap Natarajan.

Kemudian, Christopher Onken yang merupakan ahli astronomi dari kampus yang sama dengan Wolf menyatakan kemisteriusan objek ini walaupun sudah ada sejak lama. Namun masih belum bisa diidentifikasi secara pasti.

"Sungguh mengejutkan bahwa ia masih belum diketahui hingga saat ini, ketika kita sudah mengetahui sekitar satu juta quasar yang kurang mengesankan," tambahnya.

Para peneliti mengklaim menemukan dan tengah mempelajari lubang hitam supermasif yang jauh dapat membantu para astronom mempelajari rincian penting tentang kelahiran dan perkembangan awal alam semesta. Para peneliti berharap penelitian di masa depan berpusat pada sejarah quasar dan mengukur pertumbuhan juga perkembangannya.

Tim peneliti mencatat bahwa beberapa data ini akan lebih mudah dikumpulkan setelah teleskop besar menerima peningkatan instrument. Peningkatan tersebut yang dikenal sebagai Gravity+, yang dirancang untuk memberikan pengukuran massa lubang hitam jauh yang lebih cepat.

Selain itu, ESO juga berencana akan meluncurkan dan menggunakan Extremely Large Telescope (ELT) di Gurun Atacama, Chile. Teleskop ini sebut para peneliti akan membantu meningkatkan metode identifikasi dan studi yang ada saat ini untuk mengidentifikasi objek-objek jauh tersebut.


























Artikel ini telah tayang di inet.detik.com dengan judul "Menakjubkan! Ada yang Jauh Lebih Terang dari Matahari di Jagat Raya"