![]() |
| Foto: Getty Images/iStockphoto/Galang Muhamad |
Momen Lebaran yang mempertemukan seluruh sanak keluarga terkadang memunculkan benih asmara antar sepupu. Di beberapa komunitas, menikahi sepupu bahkan dianggap sebagai tradisi untuk mempererat ikatan kekeluargaan.
Namun, dari kacamata medis, ada risiko kesehatan yang patut dipertimbangkan secara matang sebelum melangkah ke pelaminan.
Masalah utama dari pernikahan kerabat dekat (konsanguinitas) terletak pada kesamaan DNA. Sebuah studi yang dilansir The Guardian menunjukkan bahwa pernikahan antar sepupu pertama dapat melipatgandakan risiko anak lahir dengan cacat bawaan. Di komunitas tertentu, faktor ini menyumbang hingga 31 persen dari seluruh kasus cacat lahir pada bayi.
Mengapa hal ini terjadi? Secara biologis, manusia membawa gen resesif yang terkadang membawa sifat penyakit. Jika Anda menikah dengan orang asing, kemungkinan pasangan memiliki gen rusak yang sama sangatlah kecil. Namun, karena gen diturunkan dalam keluarga, menikah dengan kerabat dekat meningkatkan peluang kedua orang tua menjadi "pasangan pembawa" (carrier) gen yang serupa.
Tumpang Tindih DNA yang Berbahaya
Dikutip dari Popular Science, sepupu pertama berbagi sekitar 12,5 persen DNA mereka. Jika ayah dan ibu memiliki genetik yang sangat berbeda, gen sehat dari salah satu pihak biasanya dapat memberikan perlindungan atau menutupi gen yang bermasalah.
Namun, jika DNA ayah dan ibu terlalu mirip (tumpang tindih), anak tidak memiliki "cadangan" gen sehat untuk menutupi kerusakan tersebut. Risikonya, anak rentan mengalami:
- Sistem Imun Lemah: Kesamaan genetik membuat anak mewarisi sistem kekebalan yang terlalu mirip, sehingga lebih rentan terserang penyakit atau gangguan autoimun.
- Penyakit Resesif: Munculnya penyakit langka yang sebelumnya tersembunyi di dalam silsilah keluarga.
Statistik menunjukkan sekitar 4 hingga 7 persen anak dari pernikahan sepupu pertama memiliki risiko cacat lahir, dibandingkan hanya 3 persen pada pasangan yang tidak memiliki hubungan kekerabatan.
Semakin Jauh, Semakin Aman
Perlu dicatat bahwa menikah dengan sepupu bukanlah vonis pasti bahwa anak akan lahir tidak sehat. Banyak pasangan sepupu yang memiliki keturunan sehat. Namun, risiko ini akan terakumulasi dan meledak jika terjadi "pernikahan berantai", dengan generasi anak-anak berikutnya juga terus menikahi sepupu pertama mereka.
Kabar baiknya, risiko medis ini menurun drastis seiring dengan bertambahnya jarak kekerabatan. Sepupu kedua hanya berbagi 6,25 persen DNA, dan sepupu ketiga hanya sekitar 3 persen. Pada tingkat sepupu ketujuh, hubungan genetik biasanya sudah dianggap tidak lagi memiliki risiko medis yang signifikan.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kepincut saat Lebaran, Bolehkah Menikah dengan Sepupu? Ini Penjelasan Medisnya"
