![]() |
| Material antikarat. Foto: Getty Images/iStockphoto/luana rigolli |
Teflon sering jadi andalan di dapur karena praktis dan punya permukaan antilengket, sehingga memasak jadi lebih mudah dan tidak banyak minyak yang dibutuhkan. Di sisi lain, stainless steel dikenal lebih kuat, tahan lama, dan kerap dianggap lebih "aman" untuk penggunaan jangka panjang.
Dengan kelebihan dan kekurangan tersebut, banyak orang malah jadi bingung menentukan pilihan. Sebenarnya, mana yang lebih sehat untuk memasak sehari-hari: teflon atau stainless steel?
Teflon merupakan lapisan berbahan polytetrafluoroethylene (PTFE), yaitu jenis polimer sintetis yang banyak digunakan sebagai pelapis pada peralatan masak.
Dalam kajian ilmiah yang dipublikasikan di jurnal Environmental Science & Technology, PTFE dikenal memiliki sifat tidak reaktif (inert) dan permukaan dengan gesekan sangat rendah, sehingga mampu mencegah makanan menempel saat proses memasak.
Karena sifat tersebut, peralatan masak berbahan teflon menjadi populer digunakan di rumah tangga. Permukaan antilengket ini tidak hanya memudahkan proses memasak, tetapi juga membuat penggunaan minyak lebih sedikit serta mempermudah proses pembersihan setelah digunakan.
Selain itu, penelitian lain dalam jurnal Integrated Environmental Assessment and Management juga menyebutkan bahwa PTFE termasuk material yang stabil dan tidak mudah bereaksi dengan bahan makanan dalam kondisi penggunaan normal, sehingga banyak digunakan sebagai material kontak pangan.
Kenapa Teflon yang Tergores Perlu Diganti?
Meski praktis, peralatan masak berbahan teflon memiliki keterbatasan dari sisi daya tahan. Lapisan antilengket pada teflon dapat mengalami kerusakan, seperti tergores atau mengelupas, terutama jika digunakan dalam jangka waktu lama atau terkena gesekan alat masak berbahan keras.
Dalam praktiknya, kondisi seperti ini tidak disarankan. Praktisi kesehatan dr Anton D Saputra, SpA, AIFO-K menegaskan, teflon yang sudah rusak sebaiknya tidak lagi digunakan.
"Kalau misalnya kita pakai, akhirnya rusak, kena gores, itu idealnya harus diganti," jelasnya.
Secara ilmiah, kerusakan pada lapisan PTFE dapat meningkatkan potensi pelepasan partikel material dari lapisan teflon ke dalam makanan, terutama jika permukaannya sudah rusak. Hal ini juga dibahas dalam kajian di jurnal Environmental Science & Technology yang menyoroti degradasi material fluoropolimer saat mengalami kerusakan fisik.
Tak hanya itu, permukaan yang tergores juga bisa menjadi celah bagi kotoran dan mikroorganisme untuk menempel. Dalam kondisi tertentu, bagian yang rusak ini lebih sulit dibersihkan secara menyeluruh, sehingga berpotensi menjadi tempat berkembangnya bakteri.
Karena itu, dr Anton juga mengingatkan bahwa kerusakan pada alat masak dapat meningkatkan risiko kontaminasi. Permukaan yang tidak lagi mulus memungkinkan bakteri lebih mudah tumbuh dan sulit dibersihkan, yang pada akhirnya bisa berdampak pada kesehatan jika terus digunakan.
Stainless Steel Lebih Tahan Lama dan Minim Risiko Reaksi
Berbeda dengan teflon yang memiliki lapisan, stainless steel tidak dilapisi bahan tambahan sehingga lebih stabil dalam penggunaan jangka panjang. Stainless steel dikenal sebagai material yang lebih kuat dan tahan lama.
Bahan ini tidak mudah tergores, tahan terhadap korosi atau karat, serta mampu digunakan dalam jangka panjang tanpa mengalami penurunan kualitas yang signifikan.
Dalam kajian ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal Journal of Food Protection, stainless steel banyak digunakan sebagai material peralatan dapur karena sifatnya yang stabil dan relatif tidak bereaksi dengan bahan makanan. Hal ini membuatnya aman digunakan sebagai material kontak pangan, terutama dalam kondisi penggunaan normal.
Selain itu, permukaan stainless steel yang halus juga cenderung lebih mudah dibersihkan secara optimal jika digunakan dengan benar. Hal ini penting untuk mencegah penumpukan kotoran maupun mikroorganisme yang dapat memicu kontaminasi.
Sejalan dengan itu, dr Anton menyarankan penggunaan material yang tidak bereaksi dengan makanan.
"Selain itu juga carilah produk peralatan makan yang inert atau tidak mengalami reaksi dengan bahan makanan misalnya yang seperti dari stainless steel atau misalnya dari kaca," jelasnya.
Dengan sifatnya yang kuat, stabil, dan minim reaksi, stainless steel kerap menjadi pilihan untuk penggunaan jangka panjang, terutama bagi yang mengutamakan daya tahan dan keamanan material.
Selain mempertimbangkan jenis material, aspek keamanan juga perlu menjadi perhatian saat memilih peralatan masak.
dr Anton mengingatkan pentingnya memastikan produk yang digunakan aman untuk kontak dengan makanan.
"Tips dari saya, pastikan kalau memilih alat makan atau produk peralatan makan itu yang food grade," ujarnya.
Pada akhirnya, baik teflon maupun stainless steel sama-sama aman digunakan selama dalam kondisi baik dan digunakan dengan benar. Kuncinya ada pada pemilihan material yang tepat serta memastikan peralatan tetap layak pakai agar terhindar dari risiko kontaminasi.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Teflon Vs Stainless Steel, Apa Saja Plus-Minusnya untuk Memasak? Ini Kata Dokter"
