![]() |
| Foto ilustrasi: Getty Images/Professor25 |
Setidaknya 3 penumpang kapal pesiar mewah MV Hondius meninggal diduga akibat paparan Hantavirus. Lalu, satu orang warga negara Inggris sedang berjuang di ruang intensif.
Diberitakan BBC, kapal yang dioperasikan oleh perusahaan Oceanwide Expeditions tersebut saat ini berada di lepas pantai Tanjung Verde dengan membawa 149 orang di atas kapal. Atas kejadian ini, World Health Organization (WHO) terus memantau situasi 'medis serius' ini.
WHO mengungkap laporan kronologi virus Hanta yang kini menyebabkan lebih dari 100 penumpang terjebak di kapal pesiar mewah, MV Hondius, Oceanwide Expeditions.
Pada 2 Mei 2026, WHO menerima laporan kematian penumpang dengan gejala penyakit pernapasan berat, tiga orang tewas. Kapal tersebut membawa 147 penumpang dan awak.
Hingga 4 Mei, teridentifikasi tujuh kasus, dua kasus virus Hanta terkonfirmasi laboratorium dan lima kasus suspek, termasuk tiga kematian, satu pasien dalam kondisi kritis, serta tiga orang dengan gejala ringan.
Gejala mulai muncul antara 6 hingga 28 April 2026, ditandai dengan demam, gangguan pencernaan, yang kemudian berkembang cepat menjadi pneumonia, sindrom gangguan pernapasan akut, hingga syok.
"Investigasi lanjutan masih berlangsung. Wabah ini ditangani melalui respons internasional terkoordinasi, termasuk investigasi mendalam, isolasi dan perawatan pasien, evakuasi medis, serta pemeriksaan laboratorium," sorot WHO dalam keterangan resminya, dikutip Selasa (5/5).
Gejala Pasien Terpapar Virus Hanta
Infeksi virus Hanta pada manusia umumnya terjadi akibat kontak dengan urine, feses, atau air liur hewan pengerat yang terinfeksi. Penyakit ini ditegaskan WHO jarang terjadi, tetapi bisa berakibat fatal. Meski jarang, penularan antar manusia pernah dilaporkan pada wabah sebelumnya yang melibatkan virus Andes.
Berikut gejala yang dikeluhkan pasien tertular virus Hanta:
Kasus 1:
Pria dewasa mengalami demam, sakit kepala, dan diare ringan pada 6 April 2026. Pada 11 April, kondisinya memburuk menjadi gangguan pernapasan dan meninggal di hari yang sama. Tidak dilakukan uji mikrobiologi. Jenazah dipindahkan ke Saint Helena pada 24 April.
Kasus 2:
Perempuan dewasa yang merupakan kontak erat kasus 1 mengalami gejala pencernaan saat turun di Saint Helena pada 24 April. Kondisinya memburuk saat penerbangan ke Johannesburg dan meninggal pada 26 April. Pada 4 Mei, terkonfirmasi positif virus Hanta melalui PCR.
Kasus 3:
Pria dewasa mengalami demam, sesak napas, dan pneumonia pada 24 April. Kondisinya memburuk pada 26 April dan dievakuasi ke Afrika Selatan pada 27 April. Ia kini dirawat di ICU. Tes PCR pada 2 Mei mengonfirmasi virus Hanta.
Kasus 4:
Perempuan dewasa meninggal pada 2 Mei setelah mengalami gejala pneumonia sejak 28 April. Tiga kasus suspek lainnya melaporkan demam tinggi atau gangguan pencernaan dan masih berada di kapal.
Menteri Kesehatan Afrika Selatan Aaron Motsoaledi, menyebut pasien asal Inggris yang dalam kondisi kritis sedang ditangani.
"Pasien sedang ditangani. Seperti virus lainnya, hantavirus tidak memiliki pengobatan khusus, sehingga yang diberikan adalah perawatan suportif dan penanganan gejala," ujarnya.
Ia menambahkan, petugas kesehatan serta siapa pun yang sempat melakukan kontak dengan pasien akan dilacak dan diperiksa.
Nasib Ratusan Penumpang Lain
Diberitakan Reuters, saat ini seluruh penumpang diinstruksikan untuk tetap berada di dalam kabin masing-masing. Langkah ini diambil sebagai tindakan pencegahan meskipun penularan virus Hanta dari manusia ke manusia tergolong sangat jarang.
Di tengah ketidakpastian proses evakuasi dan investigasi medis, salah seorang penumpang memberanikan diri berbicara melalui rekaman video yang viral di media sosial. Ia menggambarkan betapa beratnya tekanan psikologis yang mereka alami di tengah laut.
"Kami bukan sekadar cerita, kami bukan sekadar judul berita, kami adalah manusia yang memiliki keluarga, memiliki kehidupan, dan ada orang-orang yang menunggu kami di rumah," ungkap penumpang tersebut.
Ketidakjelasan mengenai kapan mereka bisa pulang dan bagaimana penyebaran virus ini terjadi menjadi beban terberat bagi mereka.
"Ada banyak ketidakpastian, dan itulah bagian yang paling sulit. Yang kami inginkan saat ini hanyalah merasa aman, mendapatkan kejelasan, dan pulang ke rumah," tambahnya.
Dari Mana Virus Ini Berasal?
Tim medis internasional dari WHO dan National Institute for Public Health (RIVM) Belanda tengah bekerja keras mengungkap dari mana virus ini berasal. Hantavirus biasanya menyebar melalui partikel kotoran atau urine tikus yang terbang di udara.
Mengingat kapal MV Hondius memulai perjalanannya dari Argentina, Amerika Selatan, para ahli mencurigai dua kemungkinan besar.
Daniel Bausch, seorang profesor dari Geneva Graduate Institute, menyebutkan adanya kemungkinan varian "Virus Andes" yang ditemukan di Argentina dan Chile, yang merupakan satu-satunya spesies virus Hanta yang diketahui bisa menular antarmanusia.
"Sangat signifikan bahwa kapal pesiar ini memulai perjalanannya di Argentina," ujarnya.
Namun, ia juga memberikan sedikit angin segar dengan menyebut bahwa wabah ini kemungkinan besar tidak akan meluas menjadi pandemi.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Fakta-fakta Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar Mewah, 3 Penumpang Tewas-Ratusan Terjebak"
