Hagia Sophia

23 February 2023

Korsel Jadi Negara dengan Angka Kesuburan Terendah, Warganya Tidak Ingin Punya Anak

Korsel dua kali mencetak rekor terendah angka kesuburan di dunia. (Foto ilustrasi: Getty Images/Kevin Frayer)

Kedua kalinya Korea Selatan menjadi negara dengan angka kesuburan terendah di dunia. Populasi semakin menyusut di tengah rata-rata bayi yang dilahirkan per wanita menurun menjadi 0,78.

Sementara pada tahun 2022, statistik Korea menunjukkan tingkat kesuburan berada di 0,81. Tren paling 'anjlok' di antara negara-negara Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD).

Korea Selatan adalah satu-satunya negara di antara anggota organisasi tersebut yang mencatat tingkat kesuburan di bawah satu.

Berikut tren penurunan angka kesuburan di Korsel:
  • Tingkat kelahiran saat ini untuk Korea Selatan pada tahun 2023 adalah 6.769 kelahiran per 1000 orang, turun 1,93 persen dari tahun 2022.
  • Tingkat kelahiran Korea Selatan pada tahun 2022 adalah 6.902 kelahiran per 1000 orang, turun 1,9 persen dari tahun 2021.
  • Tingkat kelahiran Korea Selatan pada tahun 2021 adalah 7.036 kelahiran per 1000 orang, turun 1,86 persen dari tahun 2020.
  • Tingkat kelahiran Korea Selatan pada tahun 2020 adalah 7.169 kelahiran per 1000 orang, turun 1,83 persen dari tahun 2019.
Pemerintah melakukan segala cara termasuk subsidi untuk mereka yang berencana memiliki anak, tetapi belum berhasil membalikkan tren kenaikan kelahiran.

Apa Masalahnya?

Menurut riset, penyebab anjloknya angka kesuburan di Korsel adalah mahalnya biaya membesarkan anak, termasuk akses pendidikan terutama swasta. Selain itu, biaya perumahan di Korsel relatif tinggi.

Korea Selatan memiliki salah satu pasar perumahan termahal di dunia, dan seperti banyak negara lain, baru-baru ini mengalami kenaikan harga rumah yang dramatis. Penelitian telah menunjukkan bahwa perempuan yang tinggal di daerah dengan perumahan yang mahal cenderung memiliki anak pada usia yang lebih tua daripada mereka yang tinggal di daerah dengan perumahan yang lebih terjangkau.

Calon orang tua mungkin menunda memiliki anak ketika mereka mengalami masalah keterjangkauan perumahan, karena mereka perlu mengalihkan sumber daya untuk pengasuhan anak, perawatan medis, dan makanan.

Alasan ketiga berpusat pada ketidakpastian ekonomi. Laki-laki muda mengalami kesulitan yang lebih besar untuk beralih ke peran ekonomi orang dewasa yang stabil, meningkatkan jumlah pernikahan yang tertunda dan bahkan dibatalkan. Karena kesuburan terjadi terutama dalam konteks pernikahan di Korea Selatan, penurunan angka pernikahan berdampak pada penurunan kesuburan.

Bahkan pasangan suami istri dapat menunda atau tidak memiliki anak jika ada ketidakpastian ekonomi yang tinggi. Meningkatnya pekerjaan tidak tetap mungkin telah menyuntikkan ketidakpastian ekonomi ke dalam kehidupan pasangan muda dan menekan kesuburan.























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Korsel 2 Kali Rekor Kesuburan Terendah Dunia, Ini Alasan Warganya Ogah Punya Bayi"