Hagia Sophia

19 May 2023

Usai Gunakan Vape Selama 4 Bulan, Wanita Ini Terkena Radang Paru-paru

Lucy Turchin. (Foto: Tangkapan layar viral/TikTok)

Nasib malang menimpa seorang wanita di Washington DC, Amerika Serikat. Wanita tersebut mengidap penyakit yang disebabkan oleh penggunaan rokok elektrik (vape).

Wanita bernama Lucy Turchin (35) menjadikan vape sebagai alternatif untuk berhenti menggunakan rokok konvensional. Empat bulan setelahnya, Turchin mengalami merasakan ada yang tidak beres pada sistem pernapasannya.

"Tidak peduli apa yang saya lakukan, saya merasa tidak bisa mendapatkan cukup udara. Gejalanya akan semakin parah saat saya berbaring," ujar Turchin dikutip dari NY Post, Rabu (17/5/2023).

"Saya merasakan semua tekanan ini di dada saya. Saya akan terjaga sepanjang malam terengah-engah. Saya juga merasakan sakit dan gatal di paru-paru saya," lanjutnya.

Turchin mengunjungi dokter demi dokter untuk berbicara soal masalah paru-parunya dan menanyakan apakah itu ada hubungannya dengan vape. Total ada 50 dokter yang ia kunjungi.

Tetapi, dokter yang ia sambangi menyebut bahwa vape itu aman. Turchin juga diberitahu bahwa ia memiliki kecemasan karena tidak ada hasil rontgen-nya.

"Saat gejala saya memburuk, saya menjadi semakin depresi," kata Turchin.

"Setiap spesialis yang saya kunjungi tidak dapat menemukan sesuatu yang salah dengan saya. Saya akhirnya memutuskan itu harus vape. Jadi saya berhenti. Berhenti bahkan tidak sulit pada saat itu. Aku hanya ingin hidupku kembali. Aku hanya ingin udara. Saya baru vaping selama sekitar satu tahun pada saat itu," lanjutnya.

Enam bulan setelah berhenti nge-vape, gejalanya perlahan-lahan menghilang. Turchin juga merasa seolah-olah dia mendapatkan kembali 'hidupnya'.

Turchin kemudian kembali mengunjungi dokter. Kemudian, ahli alergi mendiagnosisnya dengan disfungsi pita suara tanpa melakukan tes apa pun.

Wanita tersebut kembali menggunakan rokok konvensional selama empat bulan. Selama itu, ia merasa baik-baik saja.

Hingga suatu hari, gejalanya kembali muncul ketika ia sedang keluar bersama teman-temannya. Puncaknya, seseorang meniup asap vape ke wajahnya dan dia 'merasa paru-parunya membengkak'.

"Saya sangat kesakitan. Saya menangis dan menangis. Ibuku terus menyuruhku pergi ke UGD," kata Turchin.

"Tapi saya bilang tidak, mereka tidak pernah menemukan apa pun. Mereka tidak pernah membantu saya. Kali ini tidak akan berbeda," sambungnya.

Akhirnya dia dirawat di rumah sakit dan menugaskan seorang dokter yang menurut Lucy benar-benar mendengarkannya tentang paru-parunya.

Dokter memerintahkan CT scan paru-paru Turchin beresolusi tinggi dan menemukan pneumonitis hipersensitivitas. Kondisi ini merupakan peradangan pada jaringan paru-paru dan dipicu dalam sistem kekebalan tubuh setelah menghirup zat tertentu seperti jamur.

Dia menangis ketika kekhawatirannya akhirnya dibenarkan. Ia juga berterimakasih kepada dokter karena telah mendengarkannya.

Sudah tiga tahun sejak Turchin berhenti nge-vape dan dia selalu merasa kesakitan. Turchin juga takut meninggalkan rumah jika dia secara tidak sengaja menghirup asap vape dari orang yang lewat.

Turchin mengaku trauma dan depresi. Bahkan, ia membatalkan pernikahannya karena kondisi tersebut.

"Saya menghabiskan banyak waktu di rumah sakit dan ruang gawat darurat," katanya.

"Steroid yang saya resepkan sangat buruk bagi saya secara emosional, dan juga secara fisik. Saya ketakutan. Saya marah pada diri saya sendiri. Saya merasa sangat sendirian," lanjut Turchin.

Melalui media sosialnya, Turchin berusaha untuk meningkatkan kesadaran tentang kerusakan yang diakibatkan oleh vape. Ia juga memprediksi bahwa dalam dua dekade akan ada lebih banyak lagi yang mengalami nasib serupa dengan dirinya.

Dia mengatakan satu-satunya hal yang bisa dia lakukan adalah memahami apa yang terjadi padanya dengan membantu menyelamatkan orang lain. Namun, dia sendiri sering disebut pembohong atas usahanya.

"Orang-orang perlu mengetahui bahaya vaping sehingga mereka dapat membuat keputusan berdasarkan informasi. Mereka perlu mengetahui risikonya, "kata Turchin, menambahkan jika dia tahu risikonya, dia tidak akan pernah melakukannya.

Dia berharap lebih banyak orang yang terkena dampak penyakit yang disebabkan oleh vaping akan muncul, dan sejauh ini kaum muda telah 'beruntung' mengenai konsekuensinya.

Australia sendiri telah memberikan aturan tegas untuk menghentikan kaum muda dari kebiasaan nge-vape. Adapun upaya yang dilakukan di antaranya tindakan keras terhadap impor vape, kemasan polos, dan larangan rasa yang menarik perhatian remaja.

Ada juga seruan untuk melarang iklan vape di media sosial yang menargetkan anak-anak termasuk di Snapchat dan Instagram.

Menurut Departemen Kesehatan dan Perawatan Lanjut Usia Australia, rokok elektrik mengandung nikotin, logam berat, dan zat pemicu kanker (karsinogen).

Pada 2019, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mengeluarkan peringatan setelah 200 laporan penyakit paru-paru muncul di seluruh negeri, yang mendorong Australia untuk memantau penggunaannya secara ketat.




























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Nge-vape Selama 4 Bulan buat Gantikan Rokok, Wanita Ini Kena Radang Paru-paru"