Hagia Sophia

19 May 2023

Inikah Penyebab Gelombang Panas Ekstrem yang Melanda Asia?

Biang kerok panas ekstrem di Asia. (Foto: NurPhoto via Getty Images/NurPhoto)

Gelombang panas tengah membakar beberapa bagian Asia Selatan pada April 2023 ini. Para ilmuwan mengungkapkan ini setidaknya 30 kali lebih mungkin disebabkan oleh perubahan iklim.

Temuan ini diungkapkan oleh studi cepat dari para ilmuwan internasional yang tergabung dalam World Weather Attribution. Di stasiun pemantauan yang ada di beberapa bagian India, Bangladesh, Thailand, dan Laos pada bulan lalu, tercatat suhunya mencapai 45 derajat celsius.

Suhu panas yang menyengat ini menyebabkan kematian, rawat inap yang meluas, jalan yang rusak, memicu kebakaran, hingga penutupan sekolah di wilayah tersebut. Di Thailand, suhu yang tinggi bercampur dengan kelembapan membuat beberapa bagian Thailand menjadi terasa di atas 50 derajat celsius.

Bahkan di beberapa wilayah di India, sebanyak 13 orang meninggal akibat panas saat menghadiri acara publik di luar ibu kota bisnis India, Mumbai. Di bagian lainnya, semua sekolah dan perguruan tinggi juga ditutup selama seminggu akibat suhu yang panas.

Biang Kerok Suhu yang Terasa Mendidih

Untuk mengetahui penyebab cuaca ekstrem itu, World Weather Attribution menggunakan model agar bisa menentukannya dengan cepat. Hasilnya, ditemukan bahwa suhu setidaknya dua derajat celsius lebih panas di wilayah tersebut karena adanya perubahan iklim.

Jika suhu rata-rata global mencapai dua derajat celsius lebih hangat dibandingkan di akhir tahun 1800-an, gelombang panas yang terjadi pada April lalu bisa terjadi setiap satu atau dua tahun di India dan Bangladesh. Saat ini, suhu dunia sekitar 1,1 hingga 1,2 derajat celsius lebih hangat daripada masa pra-industri.

"Kami melihat berulang kali bahwa perubahan iklim secara dramatis meningkatkan frekuensi dan intensitas gelombang panas, salah satu peristiwa cuaca paling mematikan yang pernah ada," kata Friedrike Otto, ilmuwan iklim senior di Imperial College London dan salah satu penulis studi tersebut, dikutip dari AP News, Kamis (18/5/2023).

Pemerintah juga akan menjalankan 'rencana aksi panas' untuk membantu orang-orang dari panas yang ekstrem. Ini dilakukan melalui program kesadaran, pelatihan untuk petugas kesehatan, dan metode pendinginan yang terjangkau.

Program itu dinilai perlu diterapkan lebih cepat di India dan negara-negara lain yang terkena dampak panas yang ekstrem.

"Akses ke perawatan kesehatan dan solusi pendinginan seperti kipas angin dan AC hilang untuk banyak populasi di wilayah ini," ungkap direktur Pusat Penelitian Bencana Kopenhagen di Universitas Kopenhagen, Emmanuel Raju.

"Penting untuk membicarakan siapa yang bisa mengatasi dan beradaptasi dengan panas. Sebab, banyak yang masih belum pulih dari pandemi, dan dari gelombang panas serta siklon di masa lalu, yang membuat mereka terjebak dalam lingkaran setan," jelasnya.

Menurut berbagai studi iklim global, wilayah Asia Selatan dianggap sebagai yang paling rentan pada perubahan iklim di dunia. Namun, India menjadi negara terbesar di kawasan ini terdapat di dunia saat ini juga merupakan penghasil gas pemanasan planet tertinggi ketiga.

Untuk mengatasinya, para ilmuwan mendesak untuk segera mengurangi emisi karbon dioksida.

"Gelombang panas akan menjadi lebih umum, suhu akan meningkat lebih banyak lagi dan jumlah hari panas akan meningkat dan menjadi lebih sering jika kita terus memompa gas rumah kaca ke atmosfer," tutur profesor di Universitas Chiang Mai di Thailand dan rekan penulis studi, Chaya Vaddhanaphuti.




























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Ternyata Ini Biang Kerok Gelombang Panas Ekstrem di Asia"