Hagia Sophia

03 July 2023

Berbagai Fakta Terkait EU.1.1, Subvarian COVID-19 yang Baru

Ilustrasi COVID-19. (Foto: Getty Images/iStockphoto/DMEPhotography)

Baru-baru ini heboh subvarian COVID-19 Omicron baru yang memicu melonjaknya kasus di sejumlah negara di Eropa. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), pada Jumat (23/6/2023), CDC telah mengumumkan bahwa mereka menambahkan subvarian bernama EU.1.1 atau XBB.1.5.26.1.1 ini ke dalam daftar jenis baru.

Subvarian Omicron tersebut pertama kali ditunjuk oleh para ilmuwan awal tahun ini akibat lonjakan kasus yang meningkat di beberapa negara Eropa.

CDC memperkirakan varian EU.1.1 telah menyumbang sekitar 1,7 persen dari kasus AS secara nasional. Bahkan, beberapa kasus di wilayah seperti Montana, Dakota Utara, Dakota Selatan, Colorado, Wyoming, dan Utah mencapai sebanyak 8,7 persen.

Lebih Menular?

Menurut Rajendram Rajnarayanan, PhD, peneliti dari New York Institute of Technology dan Arkansas State University di Jonesboro, subvarian Omicron EU.1.1 lebih menular dibandingkan varian atau subvarian sebelumnya yakni XBB 1.5.

"Tetapi tidak memiliki keunggulan dibandingkan yang lain, galur yang beredar sekarang," kata Rajnarayanan mengelola basis data varian COVID-19, dikutip dari Medpage Today.

Meskipun begitu, peneliti dari University of Missouri School of Medicine di Columbia, Marc Johnson, PhD, menyatakan bahwa sejauh ini varian COVID-19 EU.1.1 belum diketahui apakah subvarian tersebut menjadi ancaman bagi dunia.

"Saya pikir kita akan melihat banyak hal ini terjadi, di mana Anda akan melihat beberapa subvarian yang meningkat secara proporsional dan kemudian menghilang dan yang baru muncul dan menghilang," katanya.

Bagaimana Gejala Varian EU.1.1?

Sampai saat ini belum diketahui secara pasti apakah subvarian Omicron atau varian EU.1.1 ini mempunyai gejala yang berbeda seperti subvarian Omicron 1.16 yang diketahui memicu gejala mata merah bagi mereka yang terinfeksi. Namun secara keseluruhan, gejalanya kemungkinan sama dengan subvarian Omicron lainnya.

Dikutip dari laman Kementerian Kesehatan RI, berikut gejala COVID-19 Omicron.
  • Demam
  • Batuk
  • Kelelahan
  • Pilek
  • Nyeri tenggorokan
  • Sakit kepala
Lebih lanjut, Rajendram memberikan pesan kepada orang-orang yang masuk kelompok berisiko, seperti orang dengan komorbid hingga lanjut usia untuk mendapatkan vaksin booster COVID-19. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya risiko yang lebih buruk dari gejala subvarian baru.

Sudah Masuk RI?

Mengacu pada kasus ini, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan RI dr Siti Nadia Tarmizi mengatakan bahwa sampai saat ini belum ditemukan kasus subvarian Omicron di Indonesia.

Jika nantinya subvarian telah ditemukan, ia mengatakan Indonesia kemungkinan tidak lagi menerapkan status kedaruratan COVID-19 secara nasional. Hal ini karena warga Indonesia sudah mempunyai sistem DNA kekebalan yang cukup.

"Nggak," jawab Nadia saat ditanya apakah Indonesia kemungkinan akan menerapkan status kedaruratan lagi jika subvarian Omicron baru memicu kenaikan kasus, dihubungi detikcom, Minggu (2/7/2023).

"Kita kan sudah memiliki sistem DNA kekebalan yang cukup, sehingga kalau ada varian baru sudah bisa diantisipasi," pungkasnya.
























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Fakta-fakta EU.1.1, Subvarian COVID Omicron Baru yang Picu Kenaikan Kasus di Eropa"