Hagia Sophia

14 July 2023

Kisah Remaja Nyesal Jadi Transgender Akibat Konten di Aplikasi TikTok

Ilustrasi wanita mengalami depresi. (Foto: thinkstock)

Seorang remaja asal Montana, Amerika Serikat, Ash Eskridge (16) mengaku telah dipengaruhi oleh konten di aplikasi TikTok. Eskridge mengatakan bahwa aplikasi tersebut telah salah menyakinkannya bahwa ia adalah transgender.

Semua berawal dari depresi yang dialaminya pada usia 12 tahun. Karena masalah mental yang dialami, Eskridge lantas menggunakan TikTok sebagai 'penopang emosionalnya'.

"Saya melihat video TikTok oleh para influencer yang mengatakan bagaimana transisi tersebut menyelamatkan hidup mereka," ucap Eskridge dikutip dari NY Post, Senin (10/7/2023).

"Saya sedang berjuang dan ingin menyelamatkan hidup saya juga," sambungnya.

Berdasarkan penelitian Pew Research Center tahun 2022, TikTok berdampak pada 67 persen remaja usia 13-17 tahun. Tidak hanya itu saja, dalam studi yang dilakukan oleh Shanghai United International School menemukan bahwa ruang digital tersebut mengandung 'konten berlebihan dan membentuk nilai remaja dengan cara yang menyesatkan'.

Dalam kasus Eskridge, ia mengaku merasa isi konten di TikTok yang ia tonton 'mencuci otaknya'. Hal itu akhirnya membuatnya terdorong untuk menjadi seorang transgender.

"Saya tahu bahwa semua anak yang juga didorong untuk menjadi transgender berpikir mereka 100 persen benar dan itu bukan disebabkan TikTok. Karena itu yang saya rasakan juga sebelumnya," katanya.

"Tapi menurut saya mungkin 1 persen remaja trans di TikTok yang benar-benar trans. Sisanya dipengaruhi," klaimnya.

Sepanjang hidupnya dikenal sebagai feminin dan tidak memperlihatkan ketertarikan pada wanita, Eskridge akhirnya memutuskan untuk menjadi laki-laki dan mengubah namanya menjadi Greysen.

Pada usia 16 tahun ia mulai mengonsumsi testosteron namun ia justru merasa bahwa perubahan yang ia rasakan tidaklah wajar. Hingga akhirnya ia mulai merindukan dirinya sebagai seorang gadis.

"Itu begitu melelahkan. Orang-orang yang saya kenal tidak tahu bahwa saya tidak terlahir sebagai laki-laki. Saya harus menyesuaikan cara saya berjalan dan berbicara dengan cara yang tidak wajar bagi saya," ucap Eskridge.

"Saya tidak memberitahu siapapun bahwa saya terlahir sebagai perempuan karena saya pikir saya malu dan malu karenanya," sambungnya.

Puncaknya pada April 2023 setelah dua tahun menjalani hidup sebagai laki-laki, ia akhirnya melakukan detransisi untuk kembali menjadi seorang perempuan.

"Banyak orang yang kukenal mengira aku terlahir sebagai laki-laki. Setelah melakukan detransisi, aku banyak kehilangan teman," ucapnya.

"Saya mendukung orang transgender, namun saya salah tentang diri sendiri. Begitu saya melakukan detransisi semua masalah mental saya hilang. Saya bahagia," pungkasnya.


























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Cerita Remaja Nyesal Jadi Transgender gegara TikTok, Sebut 'Dicuci Otak'"