Hagia Sophia

09 October 2023

Untuk Kesekian Kalinya, Vape Makan Korban Lagi

Foto: Getty Images/iStockphoto/bymuratdeniz

Untuk ke-sekian kalinya, vape dan rokok elektrik 'memakan korban'. Sebab sebagaimana yang dijelaskan oleh dokter, efek vape sebenarnya tidak lebih 'enteng' dibandingkan rokok konvensional. Kali ini, kasus paru-paru kolaps akibat vape dialami oleh seorang wanita berusia 26 tahun, Jodie Hudson.

"Saya sekarang menderita asma karena semua ini. Saya mungkin akan menggunakan inhaler selama sisa hidup saya. Saya memiliki banyak penyesalan, vape hanya membuang-buang uang dan membunuh saya," tutur Jodie dikutip dari Mirror News, Minggu (8/11/2023).

Sebelum menggunakan vape, Jodie terbiasa mengkonsumsi rokok konvensional sejak berusia 18 tahun. Kemudian selama dua tahun terakhir, ia berhenti merokok namun beralih ke vape. Semuanya baik-baik saja sampai pada akhir September lalu, Jodie tiba-tiba kesulitan bernapas saat sedang beraktivitas di rumah.

Saking susahnya bernapas, ia sampai tak bisa berjalan dan bergerak. Ia pun segera dilarikan ke Bassetlaw. Setelah diperiksa, barulah ketahuan bahwa ia mengidap pneumonia gegara keseringan nge-vape.

"Saya kesulitan untuk berjalan, saya tidak bisa bernapas. Baru saja berjalan dari mobil ke rumah sakit, saya gemetar, berkeringat, saya harus langsung duduk, saya merasa sangat pusing. Saya hampir tidak bisa mengeluarkan kata-kata saya," ungkapnya.

"Saya tiba di RS dan langsung dimasukkan ke dalam sebuah ruangan karena rendahnya oksigen yang saya miliki. Tekanan darah saya rendah dan detak jantung saya sangat tinggi," pungkas Jodie.

Kata Dokter soal Pneumonia gegara Nge-vape

Mengacu pada laman John Hopkins Medicine di Maryland, AS, pneumonia lipoid bisa terjadi akibat zat berminyak di e-liquid terhirup, kemudian memicu peradangan di paru-paru. Gejala yang timbul bisa berupa batuk kronis, sesak napas, dan batuk darah atau lendir darah.

Ini memang bukan pertama kali ada kasus paru-paru kolaps imbas penggunaan vape. Salah satu penulis penelitian dan konsultan dokter dada anak Royal Brompton, Profesor Andrew Bush, ikut menyoroti maraknya kasus penyakit paru akibat vape, yang banyak dianggap sebagai alternatif untuk berhenti merokok.

"Kasus ini sangat meresahkan. Kami tidak tahu konsekuensi jangka panjang dari vaping. Kami tidak tahu apa yang ada di dalamnya. Oleh karena itu, bagaimana kita bisa mengatakan bahwa benda-benda tersebut aman untuk dihirup ke dalam paru-paru kita? Benda-benda tersebut harus dijauhkan dari tangan anak-anak muda," tegasnya.





























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Pikir Vape Bisa Bikin Stop Merokok, Wanita Umur 26 Malah Alami Kolaps Paru-paru"