![]() |
| Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/Mixmike |
Golongan darah kerap dikaitkan dengan risiko seseorang terhadap penyakit. Hal ini kembali ditinjau menyeluruh pada tahun 2024 pada individu yang berkaitan dengan risiko penyakit diabetes tipe 2.
Menurut tinjauan tersebut, individu dengan golongan darah B, baik positif maupun negatif, memiliki risiko lebih tinggi terkena diabetes tipe 2. Ini dibandingkan dengan mereka yang bergolongan darah non-B, seperti A, O, dan AB.
"Banyak tinjauan sistematis dengan meta-analisis telah diterbitkan, yang mengeksplorasi korelasi antara golongan darah ABO dan Rhesus dengan berbagai hasil kesehatan," tulis tim yang didampingi oleh ahli epidemiologi Fang-Hua Liu, dari Rumah Sakit Shengjing Universitas Kedokteran China.
"Namun, hingga saat ini, hubungan antara golongan darah ini dan hasil kesehatan masih kontroversial. Tinjauan menyeluruh saat ini mencakup 51 tinjauan sistematis dengan artikel meta-analisis dengan 270 asosiasi," sambungnya dalam jurnal yang dipublikasikan di BMC Medicine.
Tim peneliti menghitung ulang setiap asosiasi dan hanya menemukan satu contoh bukti yang meyakinkan untuk asosiasi antara golongan darah B dan risiko diabetes militus tipe 2.
Golongan darah manusia sendiri terbagi menjadi delapan kelompok utama berdasarkan keberadaan gula dan protein di permukaan sel darah merah. Golongan A, B, dan AB ditentukan oleh adanya antigen atau gula yang dapat memicu respons imun.
Sementara golongan darah O tidak memiliki antigen A maupun B. Di sisi lain, faktor Rhesus (Rh) adalah protein yang menentukan apakah darah seseorang berlabel positif atau negatif.
Sejumlah studi sebelumnya menunjukkan bahwa perbedaan kecil pada sel darah ini bisa berkaitan dengan kerentanan terhadap penyakit tertentu.
"Kami secara sistematis mencari di PubMed, Web of Science, Embase, Scopus, Cochrane Library, dan beberapa basis data regional sejak awal 16 Februari 2024," kata para ahli.
Mereka menilai kekuatan bukti, konsistensi hasil antar studi, hingga ukuran data yang digunakan. Selain itu, mereka juga memeriksa potensi bias, seperti studi kecil yang cenderung melebih-lebihkan hasil.
Para ahli juga mempertanyakan apakah hubungan tersebut akan tetap bertahan jika diuji kembali dalam penelitian selanjutnya. Hasilnya, sebagian besar hubungan tidak lolos seleksi ketat ini.
Pada akhirnya, hanya satu hubungan yang memenuhi standar bukti tertinggi, yakni antara golongan darah B dan diabetes tipe 2. Temuan kecil ini menunjukkan bahwa hubungan tersebut nyata, meski relatif kecil, sekitar 28 persen lebih tinggi dibandingkan risiko dasar.
Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan faktor risiko lain, seperti pola makan, berat badan, atau gaya hidup. Meski begitu, ini dinilai cukup signifikan terutama jika disertai faktor risiko lain.
Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan adanya hubungan nyata antara golongan darah dan diabetes tipe 2 yang bisa dipertimbangkan dalam menilai risiko individu.
Lebih luas lagi, studi ini juga menyoroti kelemahan dalam penelitian sebelumnya serta pentingnya kajian yang lebih teliti untuk memahami kaitan antara golongan darah dan penyakit.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Studi Temukan Golongan Darah yang Lebih Berisiko Kena Diabetes Tipe 2"
