Hagia Sophia

29 March 2026

Pekerja Pabrik Batu Bata Pakistan: Jual Ginjal Demi Lunasi Utang

Foto ilustrasi: Thinkstock

Seorang pekerja pabrik batu bata di pinggiran Lahore, Pakistan, dihadapkan pada pilihan yang sulit. Harus terus terjerat utang tanpa akhir atau menjual satu-satunya aset berharga yang ia miliki, yakni ginjal.

Shafeeq Masih (bukan nama sebenarnya) mengaku terus ditekan oleh pemilik pabrik untuk melunasi utang yang disebut mencapai 900.000 rupee atau sekitar 161 juta rupiah. Tetapi, sekeras apa pun ia bekerja, jumlah utang tersebut justru terus bertambah.

Masih menyadari adanya manipulasi dalam pencatatan keuangan, tetapi ia tidak berdaya.

"Apa pun yang mereka tulis, kami tidak bisa menggugatnya. Mereka menganggap kami budak dan hanya bisa patuh," kata Masih, dikutip dari The Guardian.

Dengan tanggungan anak-anak dan orang tua yang lanjut usia, Masih merasa tidak memiliki pilihan lain. Saat seorang pria asing datang menawarkan 400.000 rupee (sekitar 71 juta rupiah) untuk satu ginjalnya, ia akhirnya setuju.

Beberapa hari berlalu, Masih akhirnya dibawa menggunakan mobil dan diminta memakai kacamata yang ditutup selotip hitam. Dalam perjalanan, ia sempat berharap bisa terbebas dari jeratan utang, tetapi harapan itu pupus.

Setelah operasi, Masih hanya menerima 300.000 rupee (sekitar 53 juta rupiah), lebih sedikit dari yang dijanjikan. Beberapa hari kemudian, dalam kondisi yang masih kesakitan ia terpaksa kembali bekerja dan menyerahkan seluruh uang tersebut kepada pemilik pabrik.

"Saya berharap dia akan menaikkan upah saya atau membiarkan saya pergi," beber Masih.

Namun, ia justru diminta kembali bekerja seperti biasa. Dua tahun berlalu, kondisi Masih tidak banyak berubah dan semakin parah karena tidak mampu lagi bekerja berat seperti sebelumnya.

"Sekarang saya tidak bisa bekerja berat tanpa rasa sakit," lanjutnya.

Pekerja lainnya, Sania Bibi (nama samaran), mengaku mulai bekerja sejak usia 10 tahun saat keluarganya memiliki hutang 200.000 rupee sekitar 35 juta rupiah. Tetapi, utang itu membengkak menjadi 3,5 juta rupee (626 juta rupiah).

Bibi juga ditawari uang untuk menjual ginjalnya. Oknum tersebut menjanjikan banyak mimpi, salah satunya bisa keluar dari sistem ini.

"Saya pikir bisa melunasi utang dan anak-anak saya bisa sekolah. Saya langsung mengambil keputusan saat itu juga," tutur Bibi.

Namun, mirisnya Bibi hanya menerima 100.000 rupee (sekitar 17 juta rupiah). Tentunya nominal itu jauh sekali dari perjanjian awal.

Bibi mengaku sangat menyesal. Seharusnya, ia tidak memberikan satu ginjalnya begitu saja.

"Kondisi saya tetap sama, di tempat yang sama. Tidak ada yang berubah. Anak-anak saya tidak mendapatkan kebebasan, hati saya hancur," tambahnya.

Risiko Hidup dengan Satu Ginjal

Dikutip dari Kidney Research UK, ginjal tunggal cenderung tumbuh lebih cepat dan membesar daripada ginjal berpasangan. Hal itu yang membuat ginjal tunggal lebih rentan terhadap cedera.

Sebagian besar orang dengan satu ginjal normal memiliki sedikit atau tidak ada masalah, terutama dalam beberapa tahun pertama. Tetapi, dokter umumnya akan merekomendasikan agar orang tersebut dipantau lebih ketat, terutama jika mereka lahir dengan dua ginjal da telah menjalani pengangkatan satu ginjal.

Seseorang kemungkinan dapat mengalami tekanan darah tinggi. Dikutip dari National Kidney Foundation, beberapa orang juga dapat mengalami protein dalam urine (albuminuria) atau mengalami penurunan fungsi ginjal secara progresif dari waktu ke waktu (penyakit ginjal kronis).

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kisah Pilu Pekerja Pabrik Batu Bata Pakistan, Jual Ginjal Demi Lunasi Utang"