![]() |
| Foto: Getty Images/Kanawa_Studio |
Studi Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives (CISDI) mengungkap 9 dari 10 makanan kemasan di Indonesia terbukti tinggi gula, garam, dan lemak. Hasil riset ini didapatkan dari analisis 8.077 sampel di berbagai kota besar, termasuk DKI Jakarta, Surabaya, Medan, hingga Makassar.
Studi dilakukan dengan pengujian Model Profil Gizi (Nutrient Profile Models/NPM) bersama Center for Health and Nutrition Education, Counseling, and Empowerment (CHeNECE) di Universitas Airlangga.
Peneliti menilai, peredaran makanan kemasan yang didominasi tidak sehat jelas mendorong peningkatan risiko penyakit tidak menular, termasuk obesitas. Pasalnya, lingkungan pangan dinilai berperan besar karena secara sistematis mendorong konsumsi makanan tidak sehat.
"Temuan ini menegaskan masyarakat Indonesia hidup dalam lingkungan pangan yang telah didominasi produk tinggi gula, garam, dan lemak. Ini bukan lagi soal edukasi individu, tetapi soal desain sistem yang perlu diperbaiki," sorot Muhammad Zulfiqar Firdaus, Health Economics Research Associate CISDI dalam keterangannya, dikutip Kamis (30/4/2026).
Dalam studi ini, peneliti juga membandingkan dengan penilaian Nutri-level, kebijakan baru pengelompokan makanan kemasan hingga siap saji berdasarkan level A, B, C, hingga D. Level A dikategorikan paling sehat, sementara D sebaliknya.
Perbedaan signifikan terlihat pada laporan analisis menggunakan Nutri Level.
"Hanya sekitar 73 persen produk yang dinilai tidak sehat," lapor CISDI.
Rinciannya, 64,2 persen masuk dalam kategori level D, paling tinggi gula garam dan lemak, sisanya 11,4 persen berada di level C.
CISDI menilai sebagian besar produk makanan kemasan yang masuk kategori C sebetulnya telah melampaui batas gula, garam, atau lemak yang aman menurut Model Profil Gizi berbasis bukti. Sayangnya, pada Nutri-level kategori C masih dapat dipersepsikan sebagai relatif aman oleh konsumen.
"Perbedaan ini menunjukkan bahwa ketepatan ambang batas sangat menentukan seberapa efektifnya suatu kebijakan. Jika terlalu longgar, banyak produk makanan tidak sehat yang tidak teridentifikasi," kata Trias Mahmudiono Direktur CHeNECE, sekaligus Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Studi CISDI: Lebih dari 60 Persen Makanan Kemasan Masuk Nutri-Level Kategori D"
