Hagia Sophia

02 June 2023

Untuk Pencegahan Penyakit DBD, IDAI Sarankan Pemerintah Gratiskan Vaksin

IDAI merekomendasikan vaksin DBD. (Foto: Getty Images/iStockphoto/15308757)

Penyakit demam berdarah (DBD) merupakan penyakit yang ditularkan melalui nyamuk dan bukan dari antara manusia. Dua jenis nyamuk yang dapat menyebabkan penularan virus dengue adalah nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus.

Jika tidak ditangani dengan benar, penyakit demam berdarah dapat menjadi bahaya untuk masyarakat.

Sebagai salah satu bentuk pencegahan penyakit DBD, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)merekomendasikan penggunaan vaksin DBD untuk anak mulai usia 6-18 tahun. Vaksin DBD bisa digunakan hingga orang dewasa berusia 45 tahun.

Ketua UKK Infeksi Penyakit Tropis Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr Anggraini Alam, dr., SpA(K) mengatakan bahwa IDAI saat ini telah memasukkan vaksin dengue dalam rekomendasi vaksin saat ini.

"Yang namanya imunisasi itu termasuk pencegahan primer jadi sebelum sakit kita cegah dan vaksinasi ini untuk dengue mencegah 4 virus demam berdarah," ucap dr Anggraini ketika ditemui detikcom di Jakarta Selatan, Rabu (31/5/2023).

"Ikatan Dokter Anak Indonesia bersama dengan PAPDI (Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia) sudah memasukkan vaksin dengue yang sudah dikeluarkan izinnya Badan POM sejak agustus 2022," sambungnya.

Vaksin demam berdarah dapat didapatkan oleh masyarakat, termasuk orang-orang yang sebelumnya sudah pernah terinfeksi demam berdarah. Masyarakat yang ingin mendapatkan vaksin dengue bisa mendapatkannya dengan harga Rp 567 ribu untuk setiap dosisnya.

Vaksin dengue perlu diberikan sebanyak 3 kali dengan jarang antar pemberian sebanyak 6 bulan.

"Kita harus melawan dengue. Musuhnya ada dua tidak hanya virus, tetap ada vektor nyamuk yang harus kita lawan. 3M (menguras, menutup, mendaur ulang) plus vaksin adalah yang paling penting untuk menatalaksana untuk mencegah kejadian dengue," jelasnya.

Terkait dengan vaksin dengue yang saat ini masih belum bisa didapatkan secara gratis, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes dr Siti Nadia Tarmizi, M.Epid menjelaskan bahwa ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan untuk membuat vaksin tersebut masuk ke dalam program nasional.

"Ada prosedur yang harus dilakukan pemerintah sebelum akhirnya memasukkan vaksin tersebut ke dalam program nasional ya. Tapi pemerintah merekomendasikan," ucap dr Nadia dalam kesempatan yang sama.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kasus COVID Diprediksi Capai 65 Juta Per Minggu, China Ketar-Ketir Bikin Vaksin"