Hagia Sophia

28 September 2023

Kasus Pasien dengan Susuk juga Ada di Indonesia, Ini Kata Pakar Radiologi

Fenomena susuk di dunia medis. (Foto: Tangkapan layar TikTok Dr Razif @pakar.mata)

Viral seorang dokter di Malaysia bernama Dr Razif menceritakan pasiennya yang memakai susuk. Dikutip dari Mstar, pasien berusia 60-an tahun itu sampai ke rumah sakit dengan kondisi tubuh lumpuh separuh, tidak bisa berbicara, tetapi masih dalam keadaan sadar.

Untuk mengetahui kondisinya, Dr Razif melakukan serangkaian pemeriksaan pada pasiennya. Mulai dari tes darah hingga x-ray, dan menemukan beberapa jarum susuk di bagian mata, wajah, leher, hingga payudara pasiennya.

Fenomena susuk dalam dunia medis dikenal sebagai corpus alienum. Susuk atau charm needle ini biasanya adalah pin logam yang biasanya terbuat dari perak, emas atau paduannya, berukuran panjang sekitar 5-10mm dan diameter 0,5mm. Kasus penemuan susuk biasanya banyak ditemukan di Asia Tenggara seperti Malaysia, Singapura dan Indonesia.

Susuk diklaim membuat pemakainya semakin cantik, awet muda, meningkatkan kesehatan, menghilangkan rasa sakit.

"Sependek pengetahuan saya sebagai dokter radiologi, kadang kita menemukan gambaran corpus alienum seperti jarum kecil di foto kepala atau sinus yang lokasinya di daerah dagu, bibir atau pipi," jelas dokter spesialis radiologi dr Prijo Sidipratomo, SpRad(K) pada detikcom, Rabu (27/9/2023).

Namun, dr Prijo mengatakan umumnya pasien dengan susuk itu tidak merasa ada yang salah, meski ada benda asing di tubuhnya. Mereka cenderung merasa baik-baik saja.

Berdasarkan jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, umumnya susuk bersifat biokompatibel atau tidak mengganggu tubuh. Tetapi, pada beberapa kondisi kehadiran susuk itu dapat menyebabkan gangguan ringan sampai berat, berupa rasa tidak nyaman sampai rasa sakit yang mengganggu.

Salah satu kasus dialami oleh wanita 38 tahun yang datang ke instalasi rawat jalan Ilmu Penyakit Mulut (IPM), Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Universitas Padjadjaran. Ia mengeluh nyeri menusuk dan berdenyut pada sisi kanan wajah, termasuk pipi, hidung, dagu, dan dahi secara tiba-tiba.

Rasa nyeri itu hilang dan timbul kurang lebih selama 3 tahun. Keluhan itu bisa menetap hingga beberapa bulan dan kemudian hilang meski tidak mengkonsumsi obat.

Pasien juga mengaku sempat mengalami bintik-bintik pada rongga mulut, bibir, tenggorokan, wajah, hingga dadanya. Setelah melewati serangkaian pemeriksaan, kondisi umum pasien cukup baik.

Pemeriksaan penunjang berupa radiografi panoramik dilakukan untuk melihat struktur tulang dan gigi. Dari hasil radiografi panoramik, tampak gambaran menyerupai sisa akar pada regio 12 dan 14 di kelilingi area lusensi; bahan tambal radiopak gigi 21 dan 44.

Adapun beberapa corpus alienum, yaitu 2 buah pada sekitar regio bukal 16, 1 buah di regio tuberculum mentale, 1 buah di regio basis mandibula, inferior dari foramen mentale, dan 1 buah regio distal akar 35.

Diagnosis sementara adalah nyeri orofasial disertai suspek sisa akar 12 dan 14. Diagnosis banding adalah trigeminal neuralgia, post herpetic neuralgia, sinusitis maksilaris, atypical neuralgia.

Sekitar satu tahun kemudian, pasien datang kembali ke IPM untuk evaluasi nyeri. Ia mengatakan keluhan nyeri berkurang, namun terkadang muncul dari titik corpus alienum regio 16, lalu menyebar ke bibir dan pipi kanan.

"Nyeri yang dirasakan seperti sensasi tersengat listrik, spontan, dan menetap selama beberapa menit. Bagian yang terasa nyerinya itu semakin menyempit," tulis laporan tersebut.

Keluhan nyeri yang masih tersisa dapat diatasi dengan pemberian obat-obatan. Pasien memahami dan mengerti melalui proses komunikasi, informasi, dan edukasi dari dokter.

Terkait kondisi ini, adanya benda asing yaitu susuk masih terdapat pada jaringan lunak, serta kesulitan dalam pengambilan susuk dan kemungkinan efek samping yang terjadi.




























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Tak Cuma di Negeri Jiran, Kasus Pasien dengan Susuk Juga Ada di Indonesia"