Hagia Sophia

18 October 2023

Cegah Penyakit Ginjal Kronis, Sebelum Harus Cuci Darah Rutin

Ilustrasi ginjal. Foto: Getty Images/iStockphoto/

Ginjal merupakan organ yang memiliki fungsi penting, seperti menyaring dan membuang limbah dalam darah hingga mengendalikan kadar air dalam tubuh. Adanya gangguan pada ginjal dapat menyebabkan munculnya sejumlah penyakit lain dalam tubuh.

Penyakit ginjal kronis atau chronic kidney disease (CKD) adalah gangguan fungsi organ yang sudah berlangsung cukup lama. Kondisi ini baru terlihat ketika sudah parah dan membutuhkan penanganan lanjut. Lewat artikel ini, semoga detikers bisa mencegah munculnya CKD.

Apa itu CKD?

Dilansir dari National Kidney Foundation, penyakit ginjal kronis atau CKD adalah suatu kondisi yang ditandai dengan hilangnya fungsi ginjal secara bertahap seiring berjalannya waktu.

Ginjal merupakan organ tubuh yang berfungsi menyaring dan membuang limbah dalam darah. Jika organ ini mengalami gangguan, maka limbah dalam darah akan menumpuk sehingga berisiko memunculkan berbagai penyakit yang berbahaya.

Umumnya penyakit ginjal kronis meningkatkan risiko penderita terkena penyakit jantung, tekanan darah tinggi, anemia (dalam jumlah rendah), kerusakan saraf, kesehatan gizi yang buruk, dan lain sebagainya. Terlebih, penyakit ginjal kronis terjadi perlahan dalam jangka waktu lama.

Penyebab Penyakit Ginjal Kronis atau CKD

Menurut National Kidney Foundation, Chronic Kidney Disease atau CKD adalah penyakit yang dua pertiga kasusnya disebabkan oleh diabetes dan tekanan darah tinggi. Meski demikian, ada beberapa kondisi lain yang dapat menyebabkan penyakit ginjal kronis.

Diabetes
Diabetes terjadi ketika kadar gula darah dalam tubuh terlalu tinggi. Kadar gula darah yang tinggi menyebabkan kerusakan pada sejumlah organ, antara lain ginjal, jantung, saraf, pembuluh darah, dan mata.

Tekanan darah tinggi atau hipertensi
Hipertensi adalah kondisi di mana tekanan darah terhadap dinding pembuluh darah meningkat. Jika tidak terkontrol, hipertensi dapat menjadi penyebab utama serangan jantung, stroke, dan penyakit ginjal kronis. Selain itu, penyakit ginjal kronis juga dapat menyebabkan tekanan darah tinggi.

Glomerulonefritis
Glomerulonefritis adalah peradangan pada struktur kecil pada ginjal yang berfungsi menyaring darah dan mengeluarkan limbah. Gangguan ini merupakan jenis penyakit ginjal yang paling umum terjadi.

Penyakit Ginjal Polikistik atau PKD
Penyakit ginjal polikistik atau PKD adalah penyakit genetik atau keturunan yang menyebabkan terbentuknya kista besar pada ginjal sehingga berpotensi merusak jaringan di sekitarnya.

Kelainan ginjal dan saluran kemih sebelum lahir
Bayi yang baru lahir juga dapat mengalami kelainan ginjal dan saluran kemih saat berkembang di dalam rahim ibunya.
Kelainan ini memungkinkan terjadinya penyempitan saluran urin normal yang menyebabkan urin mengalir kembali ke dalam ginjal.

Penyakit autoimun
Pada penyakit autoimun, sistem kekebalan tubuh berbalik melawan tubuh itu sendiri. Nefritis lupus adalah salah satu penyakit autoimun yang menyebabkan peradangan pada pembuluh darah kecil yang menyaring limbah pada ginjal.

Batu ginjal atau tumor
Obstruksi akibat batu ginjal atau tumor dapat menyebabkan kerusakan ginjal. Selain itu, pembesaran kelenjar prostat pada pria atau infeksi saluran kemih berulang juga dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal.

Siapa Saja yang Berisiko Mengalami CKD?

Pada dasarnya, penyakit ginjal kronis atau CKD dapat menyerang siapa saja pada usia berapapun. Namun, beberapa orang dengan kondisi medis atau penyakit tertentu di bawah ini lebih rentan terkena CKD.
  • penderita diabetes.
  • penderita hipertensi atau tekanan darah tinggi.
  • seseorang dengan riwayat keluarga penderita penyakit ginjal.

Gejala CKD

Gejala yang disebabkan oleh chronic kidney disease atau CKD umumnya tidak terlihat sampai penyakit tersebut mencapai stadium lanjut. Namun, beberapa gejala berikut ini dapat kamu perhatikan.
  • mudah lelah dan tidak berenergi.
  • sulit berkonsentrasi.
  • nafsu makan menurun.
  • insomnia atau sulit tidur.
  • mengalami kram otot di malam hari.
  • mengalami pembengkakan pada kaki dan pergelangan kaki.
  • bengkak di sekitar mata (terutama pada pagi hari).
  • kulit kering dan gatal.
  • sering buang air kecil (terutama pada malam hari).

Diagnosis CKD

CKD dapat didiagnosis melalui tes darah dan urin. Tes-tes ini bertujuan mencari kadar zat tertentu yang tinggi dalam darah dan urin yang menyebabkan ginjal tidak berfungsi dengan baik.

Pengobatan CKD

Pada dasarnya, tidak ada obat untuk CKD. Berbagai langkah pengobatan yang disarankan dokter hanya dapat membantu meringankan gejala serta mencegahnya bertambah parah.

Dilansir dari Centers for Disease Control and Prevention, CKD dapat berkembang menjadi gagal ginjal dan penyakit kardiovaskular dini jika tidak segera diobati. Ketika ginjal berhenti bekerja, maka diperlukan cuci darah atau transplantasi ginjal untuk bertahan hidup.

Kondisi ini disebut penyakit ginjal stadium akhir (ESRD). Meski demikian, National Health Service UK mengatakan CKD hanya berkembang menjadi gagal ginjal pada sekitar 2 dari 100 orang dengan kondisi tersebut.

Pencegahan CKD

Berdasarkan pengetahuan seputar CKD di atas, maka dapat disimpulkan bahwa CKD merupakan salah satu penyakit yang berbahaya. Karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui pencegahannya, sebab mencegah lebih baik dari mengobati.

Dilansir dari P2PTM Kemenkes RI, berikut ini cara mencegah penyakit ginjal kronis atau CKD:
  • Rajin beraktivitas fisik & Berolahraga agar badan tetap bugar.
  • Menjaga kadar gula darah tetap normal.
  • Menjaga tekanan darah tetap normal.
  • Menjaga berat badan ideal.
  • Minum air putih 8-10 gelas setiap hari.
  • Tidak merokok.
  • Memeriksa fungsi ginjal secara berkala.
  • Tidak konsumsi obat anti nyeri dalam jangka panjang tanpa anjuran dokter.





























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Penyakit Ginjal Kronis (CKD), Cegah Sebelum Harus Cuci Darah atau Transplantasi"