Hagia Sophia

18 October 2023

Wanita Asal Bandung Ini Idap Skoliosis 70 Derajat

Foto: Tangkapan layar viral TikTok atas izin yang bersangkutan

Belakangan viral cerita perjuangan seorang warganet melawan skoliosis. Wanita bernama Gitarani (29) membagikan kisahnya melalui akun Tiktok pribadinya.

Ia mengaku sempat enggan memeriksakan diri, lantaran takut dioperasi. Walhasil, kelengkungan tulangnya menjadi lebih parah. Pada usia 15 tahun saja, tulangnya sudah membengkok sampai 40 derajat.

"Betul, jadi memang kata dokter aku skoliosis itu berisiko untuk makin bengkok di usia pertumbuhan. Tulang anak di usia pertumbuhan itu masih fleksibel, masih bisa dibentuk. Nah, anak pada umumnya itu kan berkembang ke tinggi badan tapi, buat orang skoliosis malah makin ngebengkokin kalo nggak ditangani secara tepat. Makanya anak remaja yang skoliosis itu pada pake brace, baju penyangga fungsinya biar ketahan gitu, supaya tulangnya nggak makin parah," ucap Gitarani saat diwawancarai detikcom, Senin (16/10/2023).

Gejala Awal Skoliosis

Gitarani mengatakan bahwa pertama kali dirinya mengetahui mengidap skoliosis saat menduduki kelas tiga SMP tepatnya umur 15 tahun.

"Aku lagi di sekolah tiba-tiba ngerasa nyeri dan nggak nyaman di punggung. Sampe ngerasa agak sesek juga. Akhirnya pulang ke rumah. Waktu itu emang belum tau tentang skoliosis itu apa. Jadi, ngiranya cuma 'oh kayaknya masuk angin aja' gitu," cerita Gitarani.

Tak lama kemudian, dia menyadari ada benjolan tulang di punggungnya. Setelah melakukan pemeriksaan ke dokter, dia didiagnosis skoliosis. Dia mengaku rasa nyeri dan pegal yang dialami sangat mengganggu aktivitas sehari-hari.

"Dengan tulang yang bengkok mungkin beban di punggungnya jadi nggak seimbang ya jadinya tuh kita gampang pegel. Jalan sedikit pegel. Kalo misal aktivitasnya udah banyak banget, tiap malem suka ngerasa sesek, kayak tertekan dari belakang. Kalo tiduran atau rebahan terus juga makin pegel. Jadi, serba salah, mau ngapa-ngapain pegel gitu," curhat Gitarani.

Keputusan Operasi Skoliosis

Tentunya, rasa takut juga dialami Gitarani saat pertama kali didiagnosis di usia 15 tahun. Saat itu dokter langsung menyarankannya untuk operasi karena bengkok tulangnya parah sampai 40 derajat. Namun, operasi itu memiliki banyak risiko termasuk kelumpuhan yang membuatnya ketakutan dan memilih untuk cari alternatif lain.

"Waktu itu masih minim pengetahuan skoliosis jadi sempet ketakutan. Dokternya juga nggak ngejelasin detail, jadi aku makin khawatir ini tuh kenapa. Akhirnya nggak diikutin tuh kedua sarannya, operasi nggak, pake brace juga nggak," ungkap Gitarani.

Sempat 'Dikretek'

Gitarani sempat mengikuti beberapa terapi non-medis, seperti praktik 'kretek' badan. Namun, tidak memberi perubahan yang signifikan, dia pun merasa lelah dan berhenti mengikuti terapi pasca menjalaninya selama tiga tahun.

Setelah itu, kondisi skoliosis yang diidap hanya dibiarkan bahkan sampai 10 tahun. Gitarani baru menemukan dokter yang cocok dan memutuskan untuk operasi di awal 2023.

"Alhamdulillah dokter itu menjelaskan dengan pendekatan yang positif jadi nggak bikin takut gitu loh. Persentase keberhasilan operasi skoliosis itu cukup besar, mostly tuh berhasil. Walaupun ada risiko cedera saraf tapi ya kecil kayak 0, berapa persen. Terus sekarang alatnya udah canggih, ada alat deteksi saraf, dan lain-lain jadi akan membantu proses," cerita Gitarani.

Saat itu kondisi skoliosisnya sudah kepalang parah hingga bengkok 70 derajat. Kalau dibiarkan lagi akan menekan paru-paru, jantung, dan organ pencernaan. Hal ini dapat menimbulkan masalah atau disfungsi di organ tersebut.

Gitarani mengaku menyesal karena membiarkan skoliosisnya tidak dioperasi saat masih di usia pertumbuhan. Ketika kisahnya ditonton banyak orang, tak sedikit netizen yang bercerita padanya. Mereka yang mengalami gejala serupa, juga enggan diperiksa dan takut operasi.

"Mereka mikirnya kalau skoliosis itu semuanya harus dioperasi, tapi sebenarnya nggak. Skoliosis yang dioperasi itu hanya yang derajatnya sudah parah saja. Kalau masih usia pertumbuhan nih, makin berisiko untuk parah terus. Jadi, walaupun waktu itu aku masih 40 derajat, dokternya sudah nyaranin untuk operasi karena takut naik derajatnya. Kalo usia 20 tahunan dan derajatnya di bawah 40 itu masih aman, sudah nggak akan naik lagi. Paling disuruh maintain aja kayak berenang, olahraga. Pake brace pun sudah nggak efektif buat usia segitu kata dokter aku," beber Gitarani.

Gitarani berpesan kepada mereka bahwa yang harus ditakutkan itu ketika tidak ditangani dan menimbulkan risiko-risiko lain. Jadi, lebih baik beranikan diri untuk ke dokter dan mengikuti saran untuk mendapatkan penanganan yang tepat sesuai dengan kondisinya.

"Jangan merasa rendah diri karena skoliosis. Ingat bahwa kalian tidak sendiri, banyak banget orang dil uar sana yang sama-sama berjuang untuk melawan skoliosisnya. Buktikanlah! Walau dengan skoliosis, kita tetap bisa produktif untuk melakukan hal yang kita suka dan ingin capai," pungkas Gitarani.





























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Wanita Bandung Idap Skoliosis 70 Derajat, Sempat Diterapi Kretek-kretek"